Thursday, February 9, 2012

Remaja Penjelajah

Standard
Mimpi adalah sebuah harapan tentang sesuatu di masa depan. Mimpi bukan hanya sebuah khayalan yang percuma karena mimpi akan mampu menguatkan seseorang dalam melangkah. Dengan mimpi maka seseorang akan terpacu untuk selalu berusaha melakukan yang terbaik.

Disinilah peran penting mimpi sebagai penunjuk jalan untuk mencapai tujuan hidup. Ia menjembatani seseorang menuju kesuksesan dengan terus mengobarkan semangat juang pantang menyerah untuk menggapainya. Oleh sebab itulah setiap orang perlu punya mimpi sebagai sebuah tujuan hidup yang hendak diperjuangkan agar menjadi kenyataan. Karena jika tanpa tujuan hidup seseorang laksana pengembara yang tersesat di tengah padang pasir tak berpenghuni. Ia tak tahu kemana ia akan melangkah dan tak ada seorangpun juga yang bisa ia mintai petunjuk tentang jalan yang benar. Itu bermakna bahwa mimpi sebagai tujuan hidup tidak bisa kita peroleh begitu saja atas dasar perkataan orang lain. Melainkan kita sendirilah yang bisa menentukannya atas dasar berbagai pertimbangan .

Sering kali seseorang   bingung ketika ditanya “apa cita-citamu ?”. Ia hanya bisa tersenyum dan menjawab “mmmm…masih bingung”. Mungkin itu masih bisa dikatakan wajar jika yang ditanya adalah anak kecil ataupun remaja yang masih punya cukup waktu untuk menentukan tujuan hidupnya. Namun, ironisnya si bingung itu  adalah orang yang telah memasuki usia produktif. Usia dimana seharunsnya seseorang telah mampu mulai menuai keuntungan dari pekerjaannya. Karena tidak punya cita-cita sebagai tujuan hidup, maka seseorang  menjadi bertindak sembarangan. Dari mulai membuang banyak waktu hanya untuk mengerjakan hal yang percuma hingga malas berusaha karena bingung apa yang akan dilakukan.

Membuang waktu untuk mengerjakan hal yang percuma membuat seseorang kehilangan banyak waktunya. Padahal jika ia menggunakan waktunya dengan baik untuk fokus pada tujuan tertentu maka ia akan mampu memperoleh keuntungan jauh lebih banyak bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk masyarakat. Karena tidak ada tujuan yang pasti dalam melangkah maka ia seolah ingin mengerjakan semua hal di usia produktifnya tanpa dibekali keahlian dan pengalaman.

Disisi lain seorang yang malas karena bingung terhadap apa yang akan ia lakukan membuatnya menjadi semakin terpuruk karena ia sudah merasa gagal. Ia seolah merasa kalah sehingga bersikap bagaikan pecundang yang tidak punya sedikitpun hasrat untuk bangkit dari kegagalan. Dengan begitu sangat mungkin ia akan berputus asa dan memilih untuk menjalani hidup apa adanya. Sekarang marilah kita bayangkan jika kebanyakan orang di sekitar kita  tidak punya tujuan hidup. Maka sangatlah mungkin bahwa semangat kemajuan yang digembor-gemborkan selama ini hanya akan menjadi sebatas wacana yang tertulis pada selembar kertas buram catatan zaman. Tentunya kita tidak ingin itu terjadi pada masyarakat kita atau lebih khususnya terjadi pada diri kita selaku remaja di masa yang akan datang. Kita memang tidak bisa melakukan semua hal namun kita juga tidak boleh terus berdiam diri. Kita harus mulai melangkah, karena dengan memulai satu langkah maka akan tercipta langkah-langkah lain yang mengantarkan kita pada sebuah tujuan hidup yang indah.

Di masa yang akan datang sudah seharusnya kita memilih tujuan hidup kita secara spesifik sebagai sebuah rambu menuju kesuksesan. Karena dengan memilih maka berarti kita telah menentukan prioritas utama tentang apa yang seharusnya kita lakukan dan apa yang kurang perlu kita lakukan. Hal itu juga berarti bahwa kita telah menentukan sebagian dari masa depan kita, karena mimpi adalah sebagian dari kenyataan. Memang ada orang-orang  beruntung yang memiliki lebih dari satu keahlian sehingga ia berpotensi untuk bisa berkarya di beberapa bidang sekaligus. Itu berarti bahwa ia dapat memilih lebih dari satu tujuan sebagai prioritas utama. Namun tak masalah selama ia benar-benar ahli dalam bidang-bidang tersebut.

Disisi lain yang menjadi masalah adalah banyaknya orang yang tak tahu apa yang menjadi tujuan hidupnya karena ia pun tak tahu apa keahlian yang dimilikinya. Walaupun saat ini sudah bermunculan berbagai tes minat dan bakat. Namun sebuah jalan terbaik untuk mengetahui apa keahlian yang kita miliki adalah melalui uji coba di lapangan. Dengan uji coba maka kita akan merasakan secara langsung suatu hal dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Dengan begitu maka kita tak akan kaget bila suatu saat kita terjun langsung dalam bidang tersebut karena kita sudah paham betul medan tempurnya.

Uji coba tak lain adalah sebuah cara yang dilakukan oleh seorang “Remaja Penjelajah” untuk mulai menjelajahi dunianya. Marilah kita mulai menjadi “Remaja Penjelajah” yang mengarungi lautan hidup menggunakan  bahtera berupa semangat untuk maju. Seorang “Remaja Penjelajah” tak akan pernah tahu secara pasti apakah wilayah yang ia lalui aman atau tidak sebelum ia memeriksa sendiri wilayah tersebut. Hal ini sama saja ketika kita ingin mengetahui apakah kita sanggup atau tidak untuk mendalami suatu bidang keahlian. Kita tidak tahu apakah kita sanggup sebelum kita mencobanya sendiri.

Semua berawal dari mencoba, mencoba sesuatu yang kita minati dan kita butuhkan untuk menjembatani kita menuju kesuksesan. Dengan mencoba sering kali yang sukar terasa lebih mudah. Mungkin kita punya mimpi yang indah, tapi kita merasa tidak mampu mengapainya karena itu sangat sulit untuk diwujudkan menurut kita. Namun kenyataannya, apa yang kita anggap sulit ternyata menjadi lebih mudah ketika kita mulai dengan berbuat. So, untuk tahu apakah kita sanggup atau tidak dalam melakukan sesuatu guna mewujudkan mimpi kita maka kita tidak boleh takut untuk  mencoba hal yang baru.

Dengan mencoba sesuatu yang baru sama saja kita memulai dari nol. Namun janganlah itu menjadikan kita takut gagal. Karena nyatanya banyak orang yang memulai dari nol lalu kemudian menjadi orang sukses seperti yang sering kita sebut from zero to hero.  Jika memang kita minat terhadap suatu hal maka cobalah dulu. Janganlah kita takut gagal, karena kegagalan malah justru bisa menjadi kunci kesuksesan seseorang. Dengan gagal maka seseorang akan memiliki pengetahuan dan pengalaman agar langkah kedepan menjadi lebih baik dan tidak mengulangi kegagalan yang pernah dialami. Dengan begitu maka kualitas dan daya saingpun akan semakin meningkat. Berbekal kualitas dan daya saing yang tinggi bukan tidak mungkin akan menjadi kunci kesuksesan seseorang dalam mewujudkan mimpinya.

Monday, December 12, 2011

Penanaman Nilai-Nilai Luhur Bangsa Indonesia Melalui Intensifikasi Pembinaan Pemimpin Muda di Sekolahan

Standard

Keanekaragaman di dunia ini merupakan pemicu terjadinya tantangan zaman yang akan menghasilkan pemenang pemicu keseragaman. Identitas antar bangsa akan menjadi objek yang diperjuangkan untuk menjadi identitas global pada akhirnya. Tentunya bangsa yang kuatlah yang akan mampu menjadikan identitasnya sebagai identitas bagi seluruh manusia di dunia. Disisi lain, bangsa-bangsa yang telah kehilangan kepercayaan diri terhadap identitasnyalah yang hanya akan menjadi pelengkap kehidupan.

Masa depan suatu bangsa ditentukan oleh para pemudanya. Ketika suatu bangsa memiliki pemuda-pemuda yang kokoh dalam memegang teguh identitasnya, maka bangsa tersebut akan memiliki peluang besar untuk menjadikan identitasnya sebagai identitas global.

Identitas kita sebagai bangsa Indonesia telah terrangkum dalam Pancasila. Lima sila dalam Pancsila merupakan lima nilai luhur bangsa Indonesia yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan ini. Sebagai bangsa Indonesia, sudah seharusnya kita berjuang untuk tetap melestarikan Pancasila sebagai identitas bangsa. Semakin gencarnya budaya bangsa lain yang memasuki negara kita, menuntut kita untuk berjuang lebih keras dalam menanamkan nilai-nilai luhur asli Indonesia kepada generasi muda.

Berbagai lingkungan pergaulan nampaknya masih kurang kondusif dalam mencetak generasi muda dengan kualitas moral yang baik dalam memahami nilai-nilai luhur. Secara garis besar ada tiga lingkungan yang paling berperan dalam penanaman nilai-nilai luhur terhadap pribadi anak. Dari mulai lingkungan edukasi pertama yaitu keluarga kemudian sekolah dan masyarakat.

Keluarga sebagai lingkungan paling awal dalam usaha pembelajaran dan penanaman nilai-nilai luhur menjadi sangat penting karena berperan sebagai pembentuk tabiat awal pada anak. Tabiat tersebutlah yang akan berpengaruh besar terhadap karakter anak kedepannya. Ketika di dalam keluarga anak sudah dibiasakan untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai luhur maka di lingkungan luarpun ia akan lebih mudah bergaul dengan tanpa terpengaruh dampak buruk lingkungannya. Bahkan dengan tabiat yang baik dan kokoh maka seseorang akan cenderung membawa teman sepergaulannya menuju kebaikan.

Di lingkungan sekolah seseorang dididik melalui berbagai media. Mata pelajaran seperti Pendidikan Agama dan  Kewarganegaraan merupakan salah satu upaya pihak sekolah dalam memberikan penjelasan mengenai pentingnya nilai-nilai luhur dalam kehidupan. Media penanaman nilai-nilai luhur lainnya adalah melalui organisasi dan kegiatan ekstrakulikuler  di sekolahan. Didalam organisasi dan kegiatan ekstrakulikuler seseorang akan dididik menjadi pribadi yang bekomitmen dan akan meningkatkan kemauan pada dirinya untuk berusaha menjadi tauladan yang baik bagi teman-temannya di sekolahan. Tak hanya itu, bahkan dengan mengikuti organisasi dan kegiatan ekstrakulikuler maka seorang anak akan merasakan indahnya semangat kebersamaan dan persatuan dalam membangun organisasi dan ekstrakulikuler yang mereka perjuangkan. Dengan seperti itu maka seorang anak memiliki wahana dalam mempraktekan teori dan ilmu yang telah mereka peroleh dari kegiatan belajar mengajar. Sedangkan tata tertib sekolah berperan sebagai pedoman bagi anak dalam hidup di lingkungan sekolah. Melatih berdisiplin dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menaati aturan yang berlaku. Walupun terdapat aturan yang memberikan sanksi bagi para pelanggarnya namun nampaknya  sekolahan menjadi lingkungan yang paling strategis dalam upaya penanaman nilai-nilai luhur kepada anak. Sanksi tidak menjadi beban yang terlampau berat bagi anak karena sanksi tersebut berlaku bagi semua siswa yang melanggar tata tertib. Dengan berbagai medianya, maka sangat pantas jika kita berusaha secara lebih maksimal dalam menanamkan nilai-nilai luhur di sekolahan. Dimana pada usia sekolahlah seseorang memiliki daya fikir yang baik untuk dapat memahami pentingnya penanaman nilai-nilai luhur dalam kehidupan.

Masyarakat adalah lingkungan akhir dalam upaya penanaman sekaligus  penerapan nilai-nillai luhur kepada anak. Di dalam masyarakat anak akan merasakan keanekaragaman yang lebih kompleks dibandingkan lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah. Walaupun anak sudah memiliki karakter khusus sebagai cerminan dari nilai-nilai moral yang dimilikinya, namun di dalam masyarakat ia akan tetap memiliki kesempatan untuk memperbaiki karakternya tersebut. Atau bahkan sebaliknya, ia juga mungkin dapat mengalami penurunan kualitas moral. 

Dalam upaya meningkatkan nilai-nilai luhur pada anak dan orang dewasa dapat dilakukan secara  perorangan maupun melalui kelompok. Cara  penanaman nilai luhur secara perorangan dapat dilakukan melalui proses pendekatan secara pribadi. Dalam proses pendekatan tersebut hendaknya seseorang yang berperan sebagai subyek atau penanam nilai-nilai luhur bisa memberikan contoh yang baik dalam bersikap dihadapan obyek yang akan diberikan pemahaman mengenai nilai-nilai luhur. Dengan begitu diharapkan obyek akan semakin tersugesti untuk menrapkan nilai-nilai luhur yang disampaikan dan sekaligus dicontohkan oleh subyek.

Cara yang kedua adalah melalui kelompok. Dalam suatu kelompok kerja sama sudah seharusnya ada seorang pemimpin kelompok yang akan menentukan tujuan perjuangan kelompok tersebut. Melalui  musyawarah mufakat  dapat diperoleh  keputusan yang mengatur  setiap anggota kelompok dalam bersikap. Demikian pula dengan sanksi yang berlaku merupakan hasil dari kesepakatan bersama sehingga sudah menjadi keharusan bagi setiap pelanggar aturan untuk menanggung  sanksi yang berlaku. Wewenang seorang pemimpin menjadi sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai luhur dalam suatu  kelompok. Seorang pemimpin yang tegas dalam menegakkan tata tertib akan menciptakan pola kebiasaan berperilaku baik sesuai dengan aturan yang berlaku bagi para anggotanya.

Sunday, December 4, 2011

Education Quality Improvement for Indonesian Entrepreneur to Increase Competitiveness in the Free Market

Standard
Entrepreneurship is the ability a person has in carrying out his job as a businessman with a heart full stability. Stability owned liver is a reflection of the merging of a job as an entrepreneur with that person. Someone who has entrepreneurship was not only able to work independently but also able to create jobs for others.

To be a successful entrepreneur is necessary to note two factors that are continuous with each other talents and interests. If a person has both of these factors it is very possible for him to become a successful entrepreneur. However, it is possible for those who only have a strong interest to be able to achieve success. With maximum effort then someone who only has an interest will be able to outperform the competitiveness of people who just have the talent.

Talent is the natural ability that has been given by God from birth. In the process of growth is possible talent is growing rapidly or even the opposite of stagnation. Talent will flourish if it continues to be distributed and put into practice. In the distribution of talent will be a process of learning in which a person will apply his talents to such innovations as a result of evaluation on him. He will try to cover up deficiencies in talent and continue to make improvements to achieve the desired success.

Sometimes people who do not have the talent to become an entrepreneur with interests that exceed even those who have the talent. Although it does not have the talent does not mean that person will definitely defeat the competition. Interest in the entrepreneur world will spurring himself to learn the business world. In the process of learning is the ability to become an entrepreneur will develop. In fact it can grow beyond the ability of people who have the talent.

Talents and interests are the two things that became the key to success as an entrepreneur. In the process of development of both needs learning as a medium. Learning can occur in formal or informal environment.

In this era of globalization Indonesia as a developing country that is trying to increase the prosperity of his nation was confronted with various constraints. One problem is that the imposed free market in Asia Pacific in 2012. With the enactment of the free market is the domestic entrepreneurs who are developing the product will directly compete with businessmen from Asia Pacific countries which mostly have a superior product. Excellences of their products include a cheaper price and product look more attractive physically. Although Indonesia is not inferior product quality, consumers will be more interested to buy foreign products because of these two advantages. Weaknesses owned Indonesian business because they do not have deep knowledge about the world of global business and strategy to face global competition.

To deal with this free market era, Indonesia requires entrepreneurs who truly experts in their fields. As we know that in the process of mental development is strongly influenced by a businessman who had attended the learning process both formal and informal environment. Formal environment of a person will experience the learning process is comprehensive and is programmed. They will be educated to have an insight about the business world are based on state curriculum. With this programmed learning process then someone will be more focus in developing its capabilities in more depth. The learning process is also controlled by the faculty who are experts in their field so it will better ensure the quality of their students.

Thursday, November 10, 2011

[RINGKASAN] Studi Komparasi Efektifitas Sekam, Abu Sekam dan Arang sebagai Isolator Alternatif pada Alat Pengering Energi Surya Sederhana

Standard
Secara umum pengeringan dapat diartikan sebagai upaya mengurangi kadar air dari bahan pangan sampai batas yang aman untuk disimpan atau dilakukan proses pengolahan selanjutnya (Earle, 1982). Cara ini merupakan suatu proses yang ditiru dari alamkita telah memperbaiki pelaksanaannya pada bagian-bagian tertentu.
Pengeringan merupakan salah satu cara pengawetan pangan yang paling tua dan juga paling luas digunakan (Desrosier, 1988). Dalam pengeringan, dikenal dua teknik yaitu pengeringan mekanik dan pengeringan sederhana (Liptan, 2001).
Pengeringan mekanik dilakukan dengan alat yang telah dirancang sesuai dengan sifat-sifat bahan hasil pertanian sehingga tujuannya dapat dicapai (Jaya, 2010). Teknik pengeringan sederhana umumnya masih dilaksanakan oleh masyarakat petaninelayan yang tinggal di pedesaan yakni dengan menjemur langsung produk yang akan dikeringkan diatas para-para bambu, lampit dan atau diatas tikar (Liptan, 2001). Pada industri kecil dan rumah tangga, panas matahari juga biasa digunakan dalam proses pengeringan (Soemangat, 1983). Menurut Liptan (2001), proses pengeringan sederhana atau pengeringan langsung di bawah terik matahari memiliki beberapa kekurangan, antara lain:
  1. Dilakukan ditempat terbuka sehingga produk yang dihasilkan terkesan kotor (berdebu).
  2. Bahan bisa dikerumuni lalat sehingga mutu kurang terjamin.
Kecenderungan masyarakat pedesaan menggunakan cara ini sulit untuk ditinggalkan. Namun, mengingat kondisi sosial ekonomi masyarakat pedesaan, penggunaan alat pengering sederhana yang menggunakan bantuan matahari sudah menjadi pilihan utama. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengembangan rancangan alat pengering sederhana energi surya sehingga dapat diperoleh alat yang paling efektif untuk mendapatkan hasil optimal.
Berdasarkan hal-hal tersebut, rancangan alat sederhana perlu dioptimalkan kinerjanya yang terkait dengan penurunan kadar air bahan selama proses pengeringan dan lama waktu pengeringan yang diperlukan untuk mendapatkan bahan pangan dengan kadar air tertentu.
Disisi lain, potensi pisang di Indonesia sebagai sumber gizi cukup besar mengingat produksi pisang mencapai 40% dari produksi buah nasional (Departemen Pertanian,2004). Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia termasuk dalam negara yang dikenal sebagai sentra produksi pisang (Satuhu dan Supriyadi, 1999).
Pisang termasuk dalam suku Musaceae (Wikipedia, 2010). Seperti halnya buah yang lainnya, pisang merupakan sumber gizi karena mengandung vitamin, mineral dan karbohidrat (Desrosier, 1988).
Usaha budidaya pisang memberikan keuntungan yang cukup besar dalam waktu yang relatif singkat (1-2 tahun) dengan BEP (Break Event Point) 1.76, akan tetapi budidaya di Indonesia sekarang belum dikelola secara optimal. Salah satu kendalanya adalah kesulitan dalam penanganan pasca panennya karena pisang merupakan salah satu komoditas pertanian yang mudah rusak (perishable) karena pisang masih tetap melakukan metabolisme sehingga kualitasnya menurun bersama waktu dalam tahap pasca panen. Salah satu upaya untuk menghambat proses metabolisme pada pisang setelah dipanen adalah dengan menurunkan kadar airnya melalui proses pengeringan.
Dalam penelitian ini masalah yang dikaji dibatasi pada pembuatan alat dan pengukuran kinerjanya berdasarkan perubahan massa bahan yang dikeringkan dan suhu rata-rata di dalamnya saat digunakan. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui sebagai berikut:
Pada Tabel 5 disajikan suhu yang diamati pada lingkungan, ruang pengering 1, 2 dan 3 saat proses pengeringan. Masing-masing tabel disajikan juga suhu maksimum, minimum dan rata-rata selama pengamatan.
Tabel 4. Suhu Lingkungan dan Ruang Pengering
Keterangan:
1. Ruang Pengering 1 = ruang pengering pada alat pengering yang terbuat dari kardus dengan sekam.
2. Ruang Pengering 2 = ruang pengering pada alat pengering yang terbuat dari kardus dengan abu sekam.
3. Ruang Pengering 3 = ruang pengering pada alat pengering yang terbuat dari kardus dengan arang.
 Hal ini menunjukkan bahwa ruang-ruang pengering yang dirancang mampu menaikkan suhu dalam ruang-ruang tersebut sehingga lebih tinggi daripada suhu lingkungan. Suhu yang lebih tinggi tersebut disebabkan oleh adanya radiasi energi surya yang melewati plastik bening dan panas dari radiasi tersebut terperangkap dalam ruang pengering. Akumulasi panas yang terperangkap dalam pengering matahari secara bertahap akan meningkatkan suhu di dalam ruang pengering sehingga lebih tinggi daripada suhu lingkungan.


Selisih suhu lingkungan dengan suhu ruang pengering 1, 2 dan 3 berturut-turut adalah sebesar 31,8 oC, 29,6 oC, dan 32,4 oC. Perbedaan suhu diantara jenis-jenis ruang pengering yang dibuat diduga disebabkan oleh adanya perbedaan bahan isolator yang digunakan. Berdasarkan data pada Tabel 6, isolator yang paling efektif adalah arang.
Tabel 6. Selisih Suhu Lingkungan dengan Suhu Ruang Pengering (oC)
Selama proses pengeringan massa irisan pisang terus menurun (Grafik 2). Penurunan massa irisan pisang sangat tajam. Pada awal proses pengeringan, pola penurunan massa sebagai akibat kehilangan air pada irisan pisang mengindikasikan bahwa kehilangan air berada pada periode laju-konstan (constant-rate period), sedangkan pola penurunan pada periode akhir percobaan mengindikasikan berada pada periode laju-penurunan (falling-rate period).
Menurut Henderson dan Perry (1982), pada periode Laju-Konstan (Constant-Rate Period) bahan yang mempunyai kadar air tinggi dan permukaannya berair akan mengalami kehilangan air seperti pada permukaan air terbuka. Air dan lingkungannya adalah faktor yang paling berpengaruh dalam periode ini. Periode Laju-Konstan (Constant-Rate Period) akan berlangsung sampai permukaan bahan bebas dari uap air bebas dan selanjutnya laju kehilangan air menurun dengan cepat. Sedangkan periode Laju-Penurunan (Falling-Rate Period) meliputi dua proses, yaitu pergerakan uap air dalam bahan ke permukaan bahan dan pembuangan uap air dari permukaan bahan ke lingkungan.
Dari data yang telah kami dapatkan dalam penelitian ini, kami dapat melihat bahwa terdapat beberapa keanehan seperti pada tabel yang terdapat di atas (Tabel 5 dan Tabel 8). Secara pemikiran, makanan yang dikeringkan pada suhu yang lebih tinggi, akan lebih cepat kering dibandingkan dengan suhu yang lebih rendah. Tetapi dari data yang kami dapatkan, suhu alat pengering yang menggunakan sekam yang bersuhu 70,3˚C lebih cepat mengeringkan pisang dibandingkan dengan alat pengering yang menggunakan arang yang bersuhu 70,9˚C. Dari masalah tersebut, kami berasumsi bahwa terjadi kesalahan yang terdapat pada kepadatan arang. Arang yang kami gunakan tidak sepenuhnya halus bahkan banyak arang yang masih berbentuk bongkahan kecil. Arang tersebut menyebabkan kerusakan pada ventilasi sehingga uap air dari pisang tidak dapat keluar dengan normal.
Selain itu kita juga berasumsi bahwa perbedaan suhu yang terjadi pada alat pengering energi surya sederhana dikarenakan penggunaan isolator yang berbeda. Isolator yang paling baik untuk digunakan adalah isolator yang mampu menyimpan panas secara stabil. Dari penelitian yang kami lakukan terlihat bahwa isolator yang paling baik dalam menyimpan panas adalah arang.
Berdasarkan pembahasan terhadap hasil penelitian, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
    1. Alat pengering sederhana tenaga surya dapat dibuat dan dioperasikan untuk pengeringan irisan pisang.
    2. Suhu rata-rata tertinggi dicapai pada ruang pengering 3 (arang) yang diikuti oleh suhu pada ruang pengering 1 (sekam), suhu pada ruang pengering 2 (abu sekam) dan suhu pada lingkungan. Berturut-turut 70,8 oC, 70,2 oC, 68,1 oC dan 38,4 oC.
    3. Penurunan massa rata-rata pisang setelah dilakukan pengeringan dalam waktu yang sama pada ruang pengering 3 (arang), 1 (sekam) , lingkungan dan 2 (abu sekam). Massanya berturut-turut menjadi 3,46 gr, 3,52 gr, 3,53 gr, 3,84 gr.
    4. Perbandingan efektifitas antara arang, sekam, abu sekam dan lingkungan dapat disimpulkan dari pencapaian suhu rata-rata dalam percobaan bahwa arang merupakan isolator yang paling efektif. 
#KTI Tim IPT 2 dalam Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional X, Jombang 2011

Tuesday, November 8, 2011

Monday, October 31, 2011

[RINGKASAN] Kontribusi Limbah Ruminansia terhadap Pemanasan Global: Laju Emisi Gas Metana dari Kotoran Kambing, Kerbau dan Sapi

Standard
Isu dunia yang terhangat saat ini adalah tentang pemansan global serta berbagai dampaknya terhadap kehidupan manusia. Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan (Wikipedia, 2010).

Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

Pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim telah menarik perhatian dunia. Kenaikan suhu udara yang kemudian menjadi sebuah ancaman bagi kehidupan manusia di muka bumi telah menjadi keresahan banyak pihak. IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) menyebutkan bahwa bila tidak dilakukan upaya pengurangan emisi gas rumah kaca maka 75-250 juta penduduk di Afrika akan menghadapi krisis air di tahun 2020. Kelaparan yang meluas akan terjadi di Asia Timur, Asia Tenggara dan Asia Selatan. Indonesia pun akan menghadapi kehilangan sekitar dua ribu pulau kecil akibat kenaikan permukaan air laut. Bencana banjir dan kekeringan menjadi ancaman (Fadli, 2007).

Kenyataan memang sepertinya mendukung, betapa negara-negara berkembang banyak yang kurang peduli dengan permasalahan lingkungan. Pembangunan industri di negara-negara berkembang yang masyarakatnya belum sadar terhadap pencemaran, telah mendegradasi kualitas lingkungan hidup secara massif. Berbagai industri, pabrik, dan ini yang paling penting industri perkayuan (penebangan hutan) telah mengakibatkan kerusakan lingkungan secara global.

Bagi negara-negara maju, kerusakan hutan tropis di negara-negara berkembang sangat mengkhawatirkan. Sebab hutan tropis dianggap sebagai paru-paru bumi yang mampu mensirkulasi dan mentransformasi karbondioksida menjadi oksigen. Bila hutan tropis hancur, maka bisa dibayangkan seluruh dunia akan terkena dampaknya. Dewasa ini, tiap tahun menurut Bank Dunia 10 sampai 20 juta hektar hutan tropis hancur. Padahal hutan tropis merupakan ekosistem yang amat penting bagi bumi. Sebagian besar makhluk hidup di bumi berada di hutan tropis.

Bila keadaan demikian terus dibiarkan, maka diperkirakan pada abad 21, hutan tropis akan lenyap dari muka bumi. Saat ini, di dunia hanya Brazil dan Indonesia saja yang masih mempunyai hutan tropis cukup luas. Namun demikian hutan tropis kedua Negara tersebut terus berkurang. Di Indonesia sebagai contoh, menurut Bank Dunia tiap tahun sekitar 600 ribu sampai 2,5 juta hektar hutan tropis musnah.

Pemanasan global disebabkan karena terakumulasinya gas-gas rumah kaca di atmosfer, sehingga panas matahari yang sampai ke permukaan bumi terjebak di dalam atmosfer bumi. Hal ini tentu saja akan meningkatkan suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi (Baskoro, 2009). Gas-gas rumah kaca tersebut meliputi CO2, CH4, N2O, CO dan juga NOX. Gas-gas ini secara alamiah memang ada di alam. Namun kegiatan manusia seperti industri, transportasi, pertanian, peternakan, rumah tangga dan berbagai kegiatan lain dapat menghasilkan gas-gas rumah kaca tersebut dalam jumlah yang besar.

Industri ternak telah menjadi penyebab utama dari pengrusakan lingkungan dan emisi gas rumah kaca. Memelihara ternak untuk konsumsi telah menjadi salah satu penghasil gas karbon dioksida terbesar serta menjadi satu-satunya sumber emisi gas metana dan nitro oksida terbesar. Sektor peternakan telah menyumbang 9 persen racun karbon dioksida, 65 persen nitro oksida, dan 37 persen gas metana yang dihasilkan karena ulah manusia. Gas metana menghasilkan gas rumah kaca 20 kali lebih besar dan nitro oksida 296 kali lebih banyak jauh di atas karbon dioksida. Peternakan juga menimbulkan 64 persen amonia yang dihasilkan karena campur tangan manusia sehingga mengakibatkan hujan asam.

Selain menghasilkan feses dan urine, dari proses pencernaan ternak ruminansia menghasilkan gas metan (CH4) yang cukup tinggi. Gas metan ini adalah salah satu gas yang bertanggung jawab terhadap pemanasan global dan perusakan ozon, dengan laju 1 % per tahun dan terus meningkat (Suryahadi dkk., 2002). Pada peternakan di Amerika Serikat, limbah dalam bentuk feses yang dihasilkan tidak kurang dari 1.7 milyar ton per tahun, atau 100 juta ton feces dihasilkan dari 25 juta ekor sapi yang digemukkan per tahun dan seekor sapi dengan berat 454 kg menghasilkan kurang lebih 30 kg feses dan urine per hari (Dyer, 1986). Sedangkan menurut Crutzen (1986), kontribusi emisi metan dari peternakan mencapai 20 – 35 % dari total emisi yang dilepaskan ke atmosfir. Di Indonesia, emisi metan per unit pakan atau laju konversi metan lebih besar karena kualitas hijauan pakan yang diberikan rendah. Semakin tinggi jumlah pemberian pakan kualitas rendah, semakin tinggi produksi metan (Suryahadi dkk., 2002).

Laju emisi CH4 ke atmosfer merupakan yang paling cepat diantara keenam gas rumah kaca. Konsentrasi CH4 meningkat 150% dari konsentrasinya sebelum jaman revolusi industri tahun 1750 (IPCC, 2001). Proyeksi emisi CH4 oleh Nakicenovic et al. pada tahun 2000 memperlihatkan bahwa konsentrasi CH4 akan terus meningkat hingga tahun 2050. Akan tetapi, sejak awal 1990, laju peningkatan konsentrasinya menurun secara drastis dan bahkan pada periode 1998-2002, konsentrasi CH4 di atmosfer cenderung stabil dan mengarah ke tren negatif (Dlugokencky et al., 2003). Fenomena ini menyebabkan timbulnya wacana untuk meninjau ulang status CH4 sebagai salah satu gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global karena pengaruhnya yang semakin kecil (Bousquet et al., 2006).

Meskipun telah diketahui perkiraan persentase emisi metana dari sektor peternakan, namun laju emisi per satuan waktu untuk kotoran yang dihasilkan oleh berbagai jenis ternak belum banyak dipublikasikan. Oleh karena itu, penelitian ini memfokuskan pengamatan dan pengukuran laju emisi metana dari kotoran kambing, kerbau dan sapi. Dengan mengetahui, laju emisi tersebut maka diharapkan dapat dilakukan perkiraan total emisi dari sektor peternakan secara lebih baik.

Secara umum, fenomena yang terjadi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Kotoran sapi, kambing dan kerbau menghasilkan akumulasi emisi gas metana yang terus meningkat sesuai dengan bertambahnya waktu.
2. Laju emisi masing-masing jenis kotoran berbeda-beda. Hal ini mengindikasikan kandungan tiap jenis kotoran tersebut mempunyai kandungan metana yang berbeda-beda.
3. Laju emisi metana pada perlakuan anaerobik dan aerobik berbeda. Hal ini ditentukan ada tidaknya oksigen dalam media penyimpanan dan aktivitas bakteri yang berperan dalam mendekomposisi bahan.
4. Laju emisi yang tercepat adalah kotoran hewan yang diperlakukan secara anaerobik. Hal ini dikarenakan bakteri yang mengurai kotoran menjadi gas metana adalah bakteri yang tumbuh dalam lingkungan anaerobik.


Berdasarkan pembahasan terhadap hasil penelitian, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Laju emisi gas metana dari kotoran hewan ruminansia, khususnya pada kambing, kerbau dan sapi terus mengalami peningkatan, sesuai pertambahan waktu.


2. Persamaan matematis emisi gas metana pada kondisi aerob dan anaerob adalah sebagai berikut:


3. Laju emisi untuk masing-masing jenis kotoran pada kondisi aerob dan anaerob adalah sebagai berikut:


4. Dari data tersebut dapat dibandingkan laju emisi pada kondisi aerob dan anaerob. Terlihat bahwa ada perbedaan yang signifikan anatara 2 kondisi tersebut, terutama pada kotoran sapi. Hal tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kotoran sapi adalah jenis kotoran ruminansia yang paling banyak menghasilkan gas metana di antara ketiga jenis kotoran yang diuji.


#Finalis Indonesian Science Project Olympiad Bidang Lingkungan 2011

Tuesday, June 21, 2011

Satu Langkah Menggapai Mimpi

Standard

Sabtu,18 Juni 2011. Dihari itu satu lagi langkah menggapai mimpi dalam hidupku telah berhasil ku lalui.

Disatu sisi,pada hari itu aku tahu hasil belajarku selama 1 semester ini (semester 2 kelas XI) yang Alhamdulillah baik dan disisi lain aku telah sukses mengharumkan nama baik SMA N 2 Purwokerto bersama 2 orang partnerku.

Agustin Nurul Fahmawati dan Shofia Suparti itulah nama mereka yang telah berjuang bersamaku dalam menapaki satu langkah maju menggapai mimpi.

Puji syukur kepada Allah SWT,dzat yang Maha Pengasih sehingga kami berhasil menjadi JUARA 1 OLIMPIADE EKONOMI ISLAM SMA/SMK/MA Se-Karesidenan Banyumas yang diselenggarakan oleh Fossei FE Unsoed.

Sungguh perjuangan yang sangat dramatis. Walupun akhirnya dengan hanya persiapan sekitar 3 hari saja dan tanpa bimbingan dari guru kami berhasil menjadi pemenenag mengalahkan mereka yang telah bersiap lebih lama dari kami dan juga didampingi oleh guru pembimbing.

Dari hal ini satu lagi inti pelajaran yang bisa saya ambil untuk kesekian kalinya. Bahwa "MAN JADDA WA JADDA". Siapa yang bersungguh sungguh pasti akan mendapatkan hasil yang memuaskan/setimpal atas seizin ALLAH SWT.

Besar harapanku semoga selanjutnya aku bisa terus berprestasi dan lebih banyak lagi berkarya sehingga bisa banyak bermanfaat bagi masyarakat dan membahagiakan kedua orangtua.amin....AYO SEMANGAT!!!