Sunday, November 11, 2012

Umi dan Bapak, Engkaulah Malaikatku di Dunia

Standard
Umi dan Bapak engkaulah malaikatku di dunia. Sejak aku dalam kandungan engkau selalu berusaha merawatku dengan baik, menjagaku, dan menyayangiku. Saat aku terlahir ke dunia, engkaulah perantara Allah untuk membimbingku ke jalan yang lurus. Di awal hidupku engkau berikan do'a mulia dalam wujud nama yang indah, pertanda harapanmu kepadaku. Engkaulah manusia paling awal yang mendidikku, memberikanku ilmu, mendekatkan aku pada Rabb semesta alam. 
Dari engkaulah ku memahami dunia ini. Aku sangat bersyukur kepada Allah SWT karena memiliki orangtua seperti kalian. Orangtua yang memahami hakikat hidup ini dan mengajarkannya kepadaku. Engkau ajari aku ilmu agama yang akan menjadi bekal utama dalam hidupku. Sebagai penerang bagi hidupku sehingga aku tak akan tersesat dalam kegelapan.
Engkau suri tauladan bagi kami putra putrimu, tak hanya berkata ataupun menyuruh tapi engkau mencontohkannya kepada kami anak-anakmu. Langkah kami dalam kehidupan ini terasa  tenang karena engkau mengajari kami untuk sholat. Setiap perbuatan kami adalah sedekah karena kau ajarkan kami untuk berbagi. Setiap langkah kami bermakna keikhlasan karena engkau telah mendidik kami untuk berserah diri kepada Allah. Hidup kami selalu indah karena engkau mengajari kami untuk terus memperbaiki diri.  Umi dan Bapak, engkaulah tauladan nyata dalam hidupku.
Jika harus ku pilih satu pahlawan dalam hidupku setelah Rosululloh maka kalianlah yang akan jadi pahlawan itu, pahlawan dalam hidupku. Pahlawan yang selalu berjuang tanpa lelah untuk mendidikku, membesarkanku  dan menjadikanku sosok muslim yang semoga diridhoi Allah SWT. Dalam malammu engkau jaga aku, tak hiraukan kantukmu, menyusui aku, mengganti popokku, dan tak pernah  tidur lelap sepanjang masa bayiku. Saat aku beranjak balita engkau masih setia menjagaku, nakal dan rewelku tak membuat engkau membenciku karena bagimu aku adalah separuh nyawamu. Kini akupun telah remaja dan hampir beranjak dewasa namun ternyata engkau masih sangat setia menjagaku, membimbingku dan tak ingin melihatku di jalan yang salah. Setiap hari engkau menghubungiku dari kota yang jauh disana hanya untuk tau keadaanku. Dan bahkan sampai kapanpun engkau akan selalu ada disampingku, mendampingiku, menimang putra putriku kelak dan berbahagia dalam setiap kebahagianku. Oh Umi dan Bapak engkau adalah pahlawan hidupku.

Friday, November 2, 2012

Pemuda Muslim Ideal dimataku, Sosok Tauladan dalam Kehidupan

Standard

Pemuda adalah sosok pewaris peradaban. Sosok yang akan mengemban amanah dari para pendahulunya. Ia berperan sebagai agen futuritas kehidupan. Sikapnya dimasa ini akan menentukan masa depan zamannya. Pemuda adalah tiang penyangga masa depan.

Dalam Islam, masa muda dipandang sebagai masa keemasan kehidupan manusia. Bahkan karena begitu pentingnya masa muda, Islam sangat memuliakan orang yang menghabiskan masa mudanya dengan ibadah kepada ALLAH.  Rasulullah SAW bersabda dalam hadits Abdullah bin Mas’ud RA, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tirmizi). Hadits tersebut menunjukan bahwa masa muda itu sangat penting.

Jika masa muda adalah masa yang sangat penting, lalu bagaimanakah sosok pemuda muslim ideal yang sesungguhnya?.  Bagaimana seharusnya ia bersikap?. Pemuda muslim ideal adalah pemuda yang memiliki semangat tinggi untuk menuntut ilmu. Menjadikan ilmunya sebagai dasar berakhlak mulia. Menjadikan setiap akhlak mulianya bermanfaat bagi agama, keluarga dan masyarakat. Serta menjadikan seluruh sikap hidupnya sebagai ibadah dan dakwah yang istiqomah. Pemuda muslim ideal adalah teladan dalam kebaikan.

Sudah seharusnya kita beramal dengan didasari ilmu yang haq. Ilmu yang akan menjadikan amalan kita bernilai ibadah dihadapan ALLAH SWT. Dengan ilmulah keridhoan ALLAH akan semakin dekat kepada kita. Jika diibaratkan, ilmu itu bagaikan ruh dalam jasad yang berupa amalan. Sehingga amalan yang tanpa didasari ilmu bisa jadi serupa dengan jenazah yang merupakan jazad tanpa ruh. Maka, sudah seharusnya pemuda muslim ideal selalu bersemangat untuk menuntut ilmu sebagai landasan amalannya.

Wujud nyata dari ilmu adalah amalan. Setelah memperoleh ilmu sesegera mungkin seorang pemuda muslim mengaplikasikannya melalui amalan sholeh. Amalan yang sudah diniatkan sebagai ibadah kepada ALLAH SWT. Dengan amal yang didasari ilmu maka lengkaplah sudah jazad ibadah seorang muslim. Setiap geraknya bernilai ibadah, setiap ucapannyapun selalu bermanfaat dan hidupnya Insya ALLAH berkah.

Tuesday, October 30, 2012

Berpadu seperti Lampu, Menuju Indonesia Maju

Standard

Indonesia adalah zamrud katulistiwa yang membentang luas. Tanah air pusaka yang diperjuangkan dengan taruhan harta dan nyawa. Anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa melimpah ruah disana. Kekayaan alam tiada tara menjadi bekal bagi penghuninya. Negara kaya raya yang terletak ditengah samudra. Negara yang subur tanahnya, cocok untuk bertanam. Negara yang ramah penduduknya, menjunjung tinggi adat ketimuran. Adat yang terkenal dengan keagungan etikanya. Penduduknya sangat toleran hidup dalam keberagaman meski banyak rintangan. Inilah Indonesiaku yang kaya raya.
Sering kita mendengar pujian terhadap bangsa ini, tapi pernahkah kita merasa tersindir dengan pujian itu?. Lihatlah kenyataan bahwa Indonesia yang dikatakan kaya raya, ternyata masih banyak penduduknya yang hidup dalam kemiskinan. Negara ini sedang mengalami kemiskinan akut. Kemiskinan multidimensi yang semakin mewabah: miskin harta, miskin moral, miskin ilmu dan begitu banyak kemiskinan lain yang melanda bangsa ini. Inilah Indonesia yang kaya tapi miskin.

Sudah terlalu lama republik ini menunggu kemerdekaannya yang sesungguhnya. Saat ini kita masih hidup dalam kemerdekaan yang semu. Merdeka bermakna bebas menjalani kehidupan, namun faktanya bangsa ini masih sangat bergantung terhadap bangsa lain. Impor demi impor dilakukan: impor pangan, impor ilmu dan bahkan impor kebijakan. Lalu apakah pantas bangsa yang kaya raya ini terus bergantung terhadap bangsa lain sebegitu besarnya?.

Sekitar 250 juta penduduk Indonesia harus siap menghadapi tantangan global saat ini. Tantangan yang menuntut keterlibatan seluruh individu bangsa  untuk berjuang secara total. Lantas, yakinkah kita bahwa golongan miskin dan tak berpendidikan akan peduli dengan tantangan ini sedangkan merekapun tak pernah dipedulikan?. Tentu tak akan sedikitpun mereka peduli. Hanya ada kata pasrah di benak mereka. Padahal kita butuh perjuangan, bukan kepasrahan.

Haruskah bangsa ini kalah dalam persaingan hanya karena golongan yang termarginalkan?.  Lantas bagaimana solusinya?. Tampaknya, solusi terbaik dalam masalah ini adalah meningkatkan kepedulian. Jika kita ingin mereka peduli terhadap kemajuan bangsa ini, maka pedulikanlah mereka sebagai bagian dari bangsa ini. Berikan mereka semangat baru untuk hidup menuju kemenangan. Sadarkanlah mereka bahwa mereka adalah bagian penting dari bangsa ini. Tanpa mereka, kita tak akan mampu menghadapi tantangan zaman.

Hal penting yang harus kita ingat, di dalam golongan yang termarginalkan itu terdapat pemuda yang merupakan benih-benih masa depan bangsa. Pemuda adalah orang-orang yang akan menerima tongkat estafet perjuangan dari para pendahulunya. Mereka butuh bekal yang cukup untuk menjalankan tanggung jawabnya di masa depan.

Setiap pemuda berhak untuk memiliki masa depan yang cerah. Walaupun mereka termarginalkan, mereka tetap bagian dari bangsa ini. Jadikanlah mereka lampu yang mampu bersinar terang atau jika kita tak sudi melakukan itu, biarkanlah mereka tetap termarginalkan dan hidup sebagai benalu bagi bangsa ini di masa depan. Jika demikian, tunggulah kehancuran bangsa ini.

Sunday, September 9, 2012

Perjalanan Menjadi Gadjah Mada Muda, Petunjuk Terbaik dari Allah

Standard

"…Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula  kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 216)

Bismillahirohmanirrohim..
Sore ini, Minggu 9 September 2012 mendadak hati ini tegerak untuk mencurahkan kenangan masa lalu, kenangan indah yang sulit terhapuskan oleh waktu. Sebuah perjalanan menuju kampus perjuangan, Universitas Gadjah Mada. Kisah perjuangan yang semoga memberikan banyak manfaat bagi para pembaca.
Cerita ini berawal dari suatu sore di sekolah asal ku yaitu SMAN 2 Purwokerto. Pengumuman peringkat paralel yang menentukan peserta SNMPTN Undangan di umumkan. Nilai raport semester 3,4, dan 5 sangat menentukan. Ketika ku lihat rankingku di semester 3 dan 4 hati ini lega dan senang karena Alhamdulillah aku masih masuk 50% teratas kuota. Tapi saat ku lihat ranking semester 5, sedikit tercengang ku mengetahui sebuah kanyataan yang pernah ku khawatirkan sebelumnya. Yah hari itu aku merasa sedih karena tidak direkomendasikan sekolah untuk mengikuti SNMPTN Undangan. Sebenarnya itu tidak terlalu masalah untukku tapi kesedihan yang lebih ku rasakan saat melihat raut kekecewaan tercermin pada kedua orang tuaku, Umi dan Bapak tercinta. Iya, aku sadar bahwa ini salahku yang seolah mengabaikan nilai akademikku dan lebih mementingkan amanahku di organisasi. Perjuangan 3 tahun seakan terbuang percuma saat itu. Piagam dan sertifikat yang telah ku peroleh dari berbagai event kini tak bisa ku harapkan untuk jadi jembatanku menuju bangku  universitas impianku.
Satu pintu sudah tertutup tapi ku yakin masih ada pintu lain yang masih terbuka, pintu yang akan mengantarkanku menuju kesuksesan dunia wal akhirot. Sungguh merasa beruntung saat itu, dalam keadaan kecewa aku masih punya sosok-sosok luar biasa yang selalu menyemangati,mendukung dan mendo'akanku. Umi, Bapak dan keluarga besarku. Waktu terus berjalan, ketika kekecewaan mulai tersingkir dan terobati, ku coba mengubah pengalaman pahit itu jadi sebuah motivasi luar biasa. Aku harus selalu yakin dan percaya bahwa ALLAH SWT akan selalu memberikan yang terbaik bagiku.
Perjalanan dan penantian di bulan-bulan sulit saat itu cukup menggoncangkan hatiku. Kadang aku merasa gelisah tentang masa depanku. Walupun sesungguhya itu sangat tidak perlu. Hari-hari ku menjelang SNMPTN tulis diwarnai dengan berjuta rasa. Semangat,optimis, takut, lelah dan sebagainya. Tapi aku terus berusaha belajar & berdo'a dalam situasi sulit itu. 
Sedikit flashback lebih kebelakang sebuah pepatah mengungkapkan "Jujur=Mujur", itulah salah satu penyemangatku. Dengan penuh kerendahan diri atas nama ALLAH yang maha tinggi sedikit kisah inspirasi tambahan dan sebuah kebaikan yang datangnya dari ALLAH dalam 3 tahun masa studiku di SMA telah ku robohkan persepsi dunia pendidikan di Indonesia bahwa "mencontek" dalam ulangan adalah wajar bagi siswa asalkan tidak berlebihan. Alhamdulillah persepsi itu tidak berlaku bagi ku dan demikian pula bagi beberapa saudara-saudara ku di smadha. 3 tahun tanpa mencontek, curang atau apapun itu membuat 3 tahun itu menjadi kenangan yang sangat indah. Kejujuran yang insya ALLAH akan membawa kami kepada keberuntungan dan ridho ALLAH. aamiin. Dan saya pun yakin bahwa saya akan lebih bahagia saat saya ada diposisi saya saat ini dari pada saat saya berhasil ditrima SNMPTN Undangan tapi dengan cara yang haram justru  mungkin akan mendatangkan kemurkaan ALLAH. Na'udzubillah.
Diterima di Universitas Indonesia, itulah keinginan ku saat itu. Universitas yang jadi harapan dan cita-cita sejak kelas X. Tapi keinginan  itu terombang-ambing saat ku dapat petunjuk setelah melakukan sholat istikharoh bahwa aku sebaiknya meneruskan studi ke Gadjah Mada. Sama sekali tak ada keinginan, minat atau apapun yang menarik saya untuk mendaftar di UGM. Disisi lain aku yakin bahwa ALLAH adalah Dzat yang Maha tahu segalanya, termasuk tahu yang terbaik untuk ku. Pertimbangan yang menguras mental dan dalam keterbatasan waktu pendaftaran akhirnya ku putuskan untuk memilih Teknik Lingkungan UI pada pilihan pertama dan Gizi Kesehatan UGM di pilihan kedua pada SNMPTN Tulis 2012. Tak sampai disitu, karena begitu besarnya keinginanku berkuliah di UI kemudian ku ikuti pula Seleksi Masuk (SIMAK) UI 2012 di Depok. 

Thursday, February 9, 2012

Remaja Penjelajah

Standard
Mimpi adalah sebuah harapan tentang sesuatu di masa depan. Mimpi bukan hanya sebuah khayalan yang percuma karena mimpi akan mampu menguatkan seseorang dalam melangkah. Dengan mimpi maka seseorang akan terpacu untuk selalu berusaha melakukan yang terbaik.

Disinilah peran penting mimpi sebagai penunjuk jalan untuk mencapai tujuan hidup. Ia menjembatani seseorang menuju kesuksesan dengan terus mengobarkan semangat juang pantang menyerah untuk menggapainya. Oleh sebab itulah setiap orang perlu punya mimpi sebagai sebuah tujuan hidup yang hendak diperjuangkan agar menjadi kenyataan. Karena jika tanpa tujuan hidup seseorang laksana pengembara yang tersesat di tengah padang pasir tak berpenghuni. Ia tak tahu kemana ia akan melangkah dan tak ada seorangpun juga yang bisa ia mintai petunjuk tentang jalan yang benar. Itu bermakna bahwa mimpi sebagai tujuan hidup tidak bisa kita peroleh begitu saja atas dasar perkataan orang lain. Melainkan kita sendirilah yang bisa menentukannya atas dasar berbagai pertimbangan .

Sering kali seseorang   bingung ketika ditanya “apa cita-citamu ?”. Ia hanya bisa tersenyum dan menjawab “mmmm…masih bingung”. Mungkin itu masih bisa dikatakan wajar jika yang ditanya adalah anak kecil ataupun remaja yang masih punya cukup waktu untuk menentukan tujuan hidupnya. Namun, ironisnya si bingung itu  adalah orang yang telah memasuki usia produktif. Usia dimana seharunsnya seseorang telah mampu mulai menuai keuntungan dari pekerjaannya. Karena tidak punya cita-cita sebagai tujuan hidup, maka seseorang  menjadi bertindak sembarangan. Dari mulai membuang banyak waktu hanya untuk mengerjakan hal yang percuma hingga malas berusaha karena bingung apa yang akan dilakukan.

Membuang waktu untuk mengerjakan hal yang percuma membuat seseorang kehilangan banyak waktunya. Padahal jika ia menggunakan waktunya dengan baik untuk fokus pada tujuan tertentu maka ia akan mampu memperoleh keuntungan jauh lebih banyak bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk masyarakat. Karena tidak ada tujuan yang pasti dalam melangkah maka ia seolah ingin mengerjakan semua hal di usia produktifnya tanpa dibekali keahlian dan pengalaman.

Disisi lain seorang yang malas karena bingung terhadap apa yang akan ia lakukan membuatnya menjadi semakin terpuruk karena ia sudah merasa gagal. Ia seolah merasa kalah sehingga bersikap bagaikan pecundang yang tidak punya sedikitpun hasrat untuk bangkit dari kegagalan. Dengan begitu sangat mungkin ia akan berputus asa dan memilih untuk menjalani hidup apa adanya. Sekarang marilah kita bayangkan jika kebanyakan orang di sekitar kita  tidak punya tujuan hidup. Maka sangatlah mungkin bahwa semangat kemajuan yang digembor-gemborkan selama ini hanya akan menjadi sebatas wacana yang tertulis pada selembar kertas buram catatan zaman. Tentunya kita tidak ingin itu terjadi pada masyarakat kita atau lebih khususnya terjadi pada diri kita selaku remaja di masa yang akan datang. Kita memang tidak bisa melakukan semua hal namun kita juga tidak boleh terus berdiam diri. Kita harus mulai melangkah, karena dengan memulai satu langkah maka akan tercipta langkah-langkah lain yang mengantarkan kita pada sebuah tujuan hidup yang indah.

Di masa yang akan datang sudah seharusnya kita memilih tujuan hidup kita secara spesifik sebagai sebuah rambu menuju kesuksesan. Karena dengan memilih maka berarti kita telah menentukan prioritas utama tentang apa yang seharusnya kita lakukan dan apa yang kurang perlu kita lakukan. Hal itu juga berarti bahwa kita telah menentukan sebagian dari masa depan kita, karena mimpi adalah sebagian dari kenyataan. Memang ada orang-orang  beruntung yang memiliki lebih dari satu keahlian sehingga ia berpotensi untuk bisa berkarya di beberapa bidang sekaligus. Itu berarti bahwa ia dapat memilih lebih dari satu tujuan sebagai prioritas utama. Namun tak masalah selama ia benar-benar ahli dalam bidang-bidang tersebut.

Disisi lain yang menjadi masalah adalah banyaknya orang yang tak tahu apa yang menjadi tujuan hidupnya karena ia pun tak tahu apa keahlian yang dimilikinya. Walaupun saat ini sudah bermunculan berbagai tes minat dan bakat. Namun sebuah jalan terbaik untuk mengetahui apa keahlian yang kita miliki adalah melalui uji coba di lapangan. Dengan uji coba maka kita akan merasakan secara langsung suatu hal dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Dengan begitu maka kita tak akan kaget bila suatu saat kita terjun langsung dalam bidang tersebut karena kita sudah paham betul medan tempurnya.

Uji coba tak lain adalah sebuah cara yang dilakukan oleh seorang “Remaja Penjelajah” untuk mulai menjelajahi dunianya. Marilah kita mulai menjadi “Remaja Penjelajah” yang mengarungi lautan hidup menggunakan  bahtera berupa semangat untuk maju. Seorang “Remaja Penjelajah” tak akan pernah tahu secara pasti apakah wilayah yang ia lalui aman atau tidak sebelum ia memeriksa sendiri wilayah tersebut. Hal ini sama saja ketika kita ingin mengetahui apakah kita sanggup atau tidak untuk mendalami suatu bidang keahlian. Kita tidak tahu apakah kita sanggup sebelum kita mencobanya sendiri.

Semua berawal dari mencoba, mencoba sesuatu yang kita minati dan kita butuhkan untuk menjembatani kita menuju kesuksesan. Dengan mencoba sering kali yang sukar terasa lebih mudah. Mungkin kita punya mimpi yang indah, tapi kita merasa tidak mampu mengapainya karena itu sangat sulit untuk diwujudkan menurut kita. Namun kenyataannya, apa yang kita anggap sulit ternyata menjadi lebih mudah ketika kita mulai dengan berbuat. So, untuk tahu apakah kita sanggup atau tidak dalam melakukan sesuatu guna mewujudkan mimpi kita maka kita tidak boleh takut untuk  mencoba hal yang baru.

Dengan mencoba sesuatu yang baru sama saja kita memulai dari nol. Namun janganlah itu menjadikan kita takut gagal. Karena nyatanya banyak orang yang memulai dari nol lalu kemudian menjadi orang sukses seperti yang sering kita sebut from zero to hero.  Jika memang kita minat terhadap suatu hal maka cobalah dulu. Janganlah kita takut gagal, karena kegagalan malah justru bisa menjadi kunci kesuksesan seseorang. Dengan gagal maka seseorang akan memiliki pengetahuan dan pengalaman agar langkah kedepan menjadi lebih baik dan tidak mengulangi kegagalan yang pernah dialami. Dengan begitu maka kualitas dan daya saingpun akan semakin meningkat. Berbekal kualitas dan daya saing yang tinggi bukan tidak mungkin akan menjadi kunci kesuksesan seseorang dalam mewujudkan mimpinya.

Monday, December 12, 2011

Penanaman Nilai-Nilai Luhur Bangsa Indonesia Melalui Intensifikasi Pembinaan Pemimpin Muda di Sekolahan

Standard

Keanekaragaman di dunia ini merupakan pemicu terjadinya tantangan zaman yang akan menghasilkan pemenang pemicu keseragaman. Identitas antar bangsa akan menjadi objek yang diperjuangkan untuk menjadi identitas global pada akhirnya. Tentunya bangsa yang kuatlah yang akan mampu menjadikan identitasnya sebagai identitas bagi seluruh manusia di dunia. Disisi lain, bangsa-bangsa yang telah kehilangan kepercayaan diri terhadap identitasnyalah yang hanya akan menjadi pelengkap kehidupan.

Masa depan suatu bangsa ditentukan oleh para pemudanya. Ketika suatu bangsa memiliki pemuda-pemuda yang kokoh dalam memegang teguh identitasnya, maka bangsa tersebut akan memiliki peluang besar untuk menjadikan identitasnya sebagai identitas global.

Identitas kita sebagai bangsa Indonesia telah terrangkum dalam Pancasila. Lima sila dalam Pancsila merupakan lima nilai luhur bangsa Indonesia yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan ini. Sebagai bangsa Indonesia, sudah seharusnya kita berjuang untuk tetap melestarikan Pancasila sebagai identitas bangsa. Semakin gencarnya budaya bangsa lain yang memasuki negara kita, menuntut kita untuk berjuang lebih keras dalam menanamkan nilai-nilai luhur asli Indonesia kepada generasi muda.

Berbagai lingkungan pergaulan nampaknya masih kurang kondusif dalam mencetak generasi muda dengan kualitas moral yang baik dalam memahami nilai-nilai luhur. Secara garis besar ada tiga lingkungan yang paling berperan dalam penanaman nilai-nilai luhur terhadap pribadi anak. Dari mulai lingkungan edukasi pertama yaitu keluarga kemudian sekolah dan masyarakat.

Keluarga sebagai lingkungan paling awal dalam usaha pembelajaran dan penanaman nilai-nilai luhur menjadi sangat penting karena berperan sebagai pembentuk tabiat awal pada anak. Tabiat tersebutlah yang akan berpengaruh besar terhadap karakter anak kedepannya. Ketika di dalam keluarga anak sudah dibiasakan untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai luhur maka di lingkungan luarpun ia akan lebih mudah bergaul dengan tanpa terpengaruh dampak buruk lingkungannya. Bahkan dengan tabiat yang baik dan kokoh maka seseorang akan cenderung membawa teman sepergaulannya menuju kebaikan.

Di lingkungan sekolah seseorang dididik melalui berbagai media. Mata pelajaran seperti Pendidikan Agama dan  Kewarganegaraan merupakan salah satu upaya pihak sekolah dalam memberikan penjelasan mengenai pentingnya nilai-nilai luhur dalam kehidupan. Media penanaman nilai-nilai luhur lainnya adalah melalui organisasi dan kegiatan ekstrakulikuler  di sekolahan. Didalam organisasi dan kegiatan ekstrakulikuler seseorang akan dididik menjadi pribadi yang bekomitmen dan akan meningkatkan kemauan pada dirinya untuk berusaha menjadi tauladan yang baik bagi teman-temannya di sekolahan. Tak hanya itu, bahkan dengan mengikuti organisasi dan kegiatan ekstrakulikuler maka seorang anak akan merasakan indahnya semangat kebersamaan dan persatuan dalam membangun organisasi dan ekstrakulikuler yang mereka perjuangkan. Dengan seperti itu maka seorang anak memiliki wahana dalam mempraktekan teori dan ilmu yang telah mereka peroleh dari kegiatan belajar mengajar. Sedangkan tata tertib sekolah berperan sebagai pedoman bagi anak dalam hidup di lingkungan sekolah. Melatih berdisiplin dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menaati aturan yang berlaku. Walupun terdapat aturan yang memberikan sanksi bagi para pelanggarnya namun nampaknya  sekolahan menjadi lingkungan yang paling strategis dalam upaya penanaman nilai-nilai luhur kepada anak. Sanksi tidak menjadi beban yang terlampau berat bagi anak karena sanksi tersebut berlaku bagi semua siswa yang melanggar tata tertib. Dengan berbagai medianya, maka sangat pantas jika kita berusaha secara lebih maksimal dalam menanamkan nilai-nilai luhur di sekolahan. Dimana pada usia sekolahlah seseorang memiliki daya fikir yang baik untuk dapat memahami pentingnya penanaman nilai-nilai luhur dalam kehidupan.

Masyarakat adalah lingkungan akhir dalam upaya penanaman sekaligus  penerapan nilai-nillai luhur kepada anak. Di dalam masyarakat anak akan merasakan keanekaragaman yang lebih kompleks dibandingkan lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah. Walaupun anak sudah memiliki karakter khusus sebagai cerminan dari nilai-nilai moral yang dimilikinya, namun di dalam masyarakat ia akan tetap memiliki kesempatan untuk memperbaiki karakternya tersebut. Atau bahkan sebaliknya, ia juga mungkin dapat mengalami penurunan kualitas moral. 

Dalam upaya meningkatkan nilai-nilai luhur pada anak dan orang dewasa dapat dilakukan secara  perorangan maupun melalui kelompok. Cara  penanaman nilai luhur secara perorangan dapat dilakukan melalui proses pendekatan secara pribadi. Dalam proses pendekatan tersebut hendaknya seseorang yang berperan sebagai subyek atau penanam nilai-nilai luhur bisa memberikan contoh yang baik dalam bersikap dihadapan obyek yang akan diberikan pemahaman mengenai nilai-nilai luhur. Dengan begitu diharapkan obyek akan semakin tersugesti untuk menrapkan nilai-nilai luhur yang disampaikan dan sekaligus dicontohkan oleh subyek.

Cara yang kedua adalah melalui kelompok. Dalam suatu kelompok kerja sama sudah seharusnya ada seorang pemimpin kelompok yang akan menentukan tujuan perjuangan kelompok tersebut. Melalui  musyawarah mufakat  dapat diperoleh  keputusan yang mengatur  setiap anggota kelompok dalam bersikap. Demikian pula dengan sanksi yang berlaku merupakan hasil dari kesepakatan bersama sehingga sudah menjadi keharusan bagi setiap pelanggar aturan untuk menanggung  sanksi yang berlaku. Wewenang seorang pemimpin menjadi sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai luhur dalam suatu  kelompok. Seorang pemimpin yang tegas dalam menegakkan tata tertib akan menciptakan pola kebiasaan berperilaku baik sesuai dengan aturan yang berlaku bagi para anggotanya.

Sunday, December 4, 2011

Education Quality Improvement for Indonesian Entrepreneur to Increase Competitiveness in the Free Market

Standard
Entrepreneurship is the ability a person has in carrying out his job as a businessman with a heart full stability. Stability owned liver is a reflection of the merging of a job as an entrepreneur with that person. Someone who has entrepreneurship was not only able to work independently but also able to create jobs for others.

To be a successful entrepreneur is necessary to note two factors that are continuous with each other talents and interests. If a person has both of these factors it is very possible for him to become a successful entrepreneur. However, it is possible for those who only have a strong interest to be able to achieve success. With maximum effort then someone who only has an interest will be able to outperform the competitiveness of people who just have the talent.

Talent is the natural ability that has been given by God from birth. In the process of growth is possible talent is growing rapidly or even the opposite of stagnation. Talent will flourish if it continues to be distributed and put into practice. In the distribution of talent will be a process of learning in which a person will apply his talents to such innovations as a result of evaluation on him. He will try to cover up deficiencies in talent and continue to make improvements to achieve the desired success.

Sometimes people who do not have the talent to become an entrepreneur with interests that exceed even those who have the talent. Although it does not have the talent does not mean that person will definitely defeat the competition. Interest in the entrepreneur world will spurring himself to learn the business world. In the process of learning is the ability to become an entrepreneur will develop. In fact it can grow beyond the ability of people who have the talent.

Talents and interests are the two things that became the key to success as an entrepreneur. In the process of development of both needs learning as a medium. Learning can occur in formal or informal environment.

In this era of globalization Indonesia as a developing country that is trying to increase the prosperity of his nation was confronted with various constraints. One problem is that the imposed free market in Asia Pacific in 2012. With the enactment of the free market is the domestic entrepreneurs who are developing the product will directly compete with businessmen from Asia Pacific countries which mostly have a superior product. Excellences of their products include a cheaper price and product look more attractive physically. Although Indonesia is not inferior product quality, consumers will be more interested to buy foreign products because of these two advantages. Weaknesses owned Indonesian business because they do not have deep knowledge about the world of global business and strategy to face global competition.

To deal with this free market era, Indonesia requires entrepreneurs who truly experts in their fields. As we know that in the process of mental development is strongly influenced by a businessman who had attended the learning process both formal and informal environment. Formal environment of a person will experience the learning process is comprehensive and is programmed. They will be educated to have an insight about the business world are based on state curriculum. With this programmed learning process then someone will be more focus in developing its capabilities in more depth. The learning process is also controlled by the faculty who are experts in their field so it will better ensure the quality of their students.