Saturday, June 6, 2015

Sensasi Praktik Kerja Lapangan

Standard
Waktu berjalan begitu cepat. 23 hari menapaki satu lagi tahap untuk menjadi Sarjana Gizi. Praktik Kerja Lapangan Blok Pelayanan Gizi Institusi & Blok Asuhan Gizi Klinis Penyakit Metabolik dan Degeneratif. Tempat Prakitik Kerja Lapangan saya kali ini adalah di Yayasan Ali Maksum dan RSUD Kota Jogja. Satu momok yang paling menakutkan bagi saya adalah ketika harus PKL di rumah sakit. Awalnya rumah sakit memang terbayang begitu seram di benak saya, tak ada sama sekali keinginan untuk bekerja di rumah sakit setelah lulus. Menjadi ahli gizi rumah sakit begitu kaku dan tak menyenangkan, ujar saya dulu. 

Tapi, memang benar "tak kenal maka tak sayang". Kita tak akan pernah bisa mencintai sesuatu tanpa mengenal terlebih dahulu, maka kita perlu mengenal. 23 hari berjalan begitu cepat dan tak sadar tiba-tiba selesai. Jika dari awal kita tak suka terhadap sesuatu bisa jadi ini akan jadi beban mendalam dalam setiap langkah. Namun, ternyata bisa jadi dari yang awalnya tak suka kita bisa jadi suka.

Ada suka duka menjadi ahli gizi rumah sakit. Tapi berkat kesempatan mengasuh 2 pasien sakit jantung dan ginjal membuat ada satu perasaan lain yang muncul dari sekedar beban. Mengasuh pasien berarti menjaga dan bertanggungjawab. Kita ingin bukan pasien yang kita asuh segera sembuh?. Dan sungguh nikmat rasa itu, Allah beri izin bagi 2 pasien itu untuk segera pulang ke rumah. Disitu saya merasa benar-benar bangga dan bahagia menjadi calon ahli gizi.

Sejak saat itu pandangan saya tentang ahli gizi rumah sakit tak seburuk dulu. Pada akhirnya dimanapun saya akan berkarya kelak tak menjadi masalah besar. Yang paling penting adalah bagaimana caranya berkarya dan melakukan kerja yang berdampak luas.  







Bahagia Bersama Kalian Kawan

Standard
Kita memang tak boleh melankolis, tapi ekspresi dari kebahagian yang memuncah memang sering membuat diri terenyuh. Begitu bahagia dan sudah semestinya bersyukur dikelilingi oleh orang-orang luar biasa. Kita tak akan pernah bisa merubah apapun di dunia jika sendiri, kolaborasi dan kerjasama adalah niscaya. Bahagia bersama kalian kawan :)



Monday, May 25, 2015

Rutinitas yang "itu-itu saja"

Standard
Melakukan rutinitas sering kali membosankan. Terlebih jika kurang mencintai apa yang dilakukan. Dari bangun tidur di pagi hari hingga tidur lagi di malam hari, tentu kita punya banyak aktivitas. Dari mulai ibadah, makan, mandi, kuliah, bekerja, dan begitu banyak lainya. Semua berulang tiap hari hingga hitungan minggu, bulan, bahkan tahun.

Itu-itu Saja!. Banyak yang mengeluh demikian. Rutinitas memang menuntut kita untuk disiplin dalam mengambil peran sesuai keharusan. Namun, jangan pernah rutinitas membuat kita terjebak dalam kekosongan visi.

Lagi-lagi, visi menjadi penting untuk menilai apa yang kita lakukan. Bisa jadi orang melakukan hal yang sama tapi dengan visi yang berbeda, maka nilainya pun berbeda. Si A menyapu, Si B juga menyapu, sama-sama menyapu!. Namun bedanya, Si A menyapu karena tuntutan kerja dan rutinitas, tidak lebih. Sedangkan B menyapu karena menyapu adalah bagian dari kerja lingkungan yang bermanfaat dan menghasilkan nafkah bagi keluarga, lebih bernilai!.

Aktivitas yang itu-itu saja tentu sangat wajar membuat kita bosan. Maka menjadi penting untuk rehat sejenak, tentu dengan hal yang positif. Walaupun sekedar tidur, nonton film, atau bersilaturahim. Apapun hal positif akan membuat jiwa kita menjadi kembali segar dan siap beraktivitas lagi.

Maka kegiatan yang itu-itu saja akan tetap terasa menggairahkan. Karena didalamnya termaktub visi mendasar, tujuan mulia, dan harapan lebih dari sekedar kemaanfaatan untuk diri sendiri. Jauh dari itu konsistensi dalam menjalani yang "itu-itu saja" memiliki cita besar untuk selalu menebar manfaat secara luas. Karena seyum saudara kita begitu berarti.

Saturday, May 16, 2015

Kekuatan Cinta

Standard
Kini aku merasakan bisik termanis di telingaku. Desir terlembut di sekujur tubuhku. Helaan ternikmat di setiap hembus nafasku. Serta perasaan terindah di lubuk hatiku. Nampaknya benar, inilah yang disebut cinta.

Mungkin ini adalah jawaban dari begitu banyak pertanyaan. Mengapa kadang hidup terasa berat dan membosankan. Karena mungkin demikian adanya hidup tanpa cinta. Namun ketika hidup selalu disertai dengan cinta, maka cinta itu lah yang membuat diri jutaan kali lebih tangguh.

Cinta membuat lelah tak terasa. Karena setiap energi yang diserap menjadi seperti bahan bakar yang menghidupkan api semangat. Terus berkobar, menerangi, dan bertahan begitu lama. Menjaga hati dan diri bertahan di garda terdepan perjuangan.

Pekerjaan tak menjadi beban, terasa seperti hobi atau bahkan mainan. Karena cinta mampu membuat setiap hari terasa liburan. Tak perlu menunggu akhir pekan, karena setiap hari adalah akhir pekan.

Begitu dasyat kekuatan cinta, mengalahkan segala peluh dan keterbatasan. Jika hidup disertai cinta, sepertinya akan mustahil keputusasaan dan kekufuran terjadi. Menjadi indah jika setiap pekerjaan disertai dengan cinta.

Yah, nampaknya demikian. Aku sedang jatuh cinta terhadap apa yang ku lakukan. Kan ku rawat agar cinta ini tumbuh subur, mengakar kuat, berdaun rindang, dan berbuah lebat. Sungguh unik, namun demikianlah kekuatan cinta, begitu menakjubkan.

Berisaplah untuk kerja-kerja cinta.

Monday, April 20, 2015

Ide Sederhana untuk Indonesia

Standard
Indonesia dimasa depan adalah negeri yang berkomitmen untuk memenuhi hak rakyat. Dengan menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran terhadap rakyat. Maka besar mimpi kita bahwa orientasi kekuasaan para petinggi ditekan sedalam-dalamnya. Yang ada hanya orientasi untuk mewujudkan tatanan Indonesia yang lebih baik dan rakyat yang sejahtera.

Mari kita mulai bermimpi dari sektor pendidikan. Maka tak ada kerusakan tanpa ada yang memperbuat dan yang berbuat kerusakan itu adalah manusia yang punya akal. Lalu bagaimana akal itu digunakan?. Doktrinasi yang keliru dalam proses pendidikan saat ini berujung pada cacatnya moral bangsa. Jika mau kita menelisik, pendidikan yang ada sekarang ini hanya berorientasi pada satu hal, materi. Hal yang paling dicari oleh para siswa dan mahasiswa adalah dua hal. Pertama tentang bagaimana mereka mendapat nilai tinggi dan kedua tentang bagaimana mereka mendapat pekerjaan yang layak. Padahal sejatinya pendidikan ada bukan untuk itu. Pendidikan ada untuk mencerdaskan bangsa dan membebaskan jiwa. Dimana dengan jiwa yang bebas dari ketergantungan dan tipudaya diiringi kecerdasan akan mengarahkan manusia menuju kesejahteraan. Maka sudah waktunya kita mesti mengalihkan orientasi material dari pendidikan ini, walaupun tentu tak mudah. Moral and vison approach menjadi solusi yang ampuh untuk menjawab permasalahan sumber daya manusia Indonesia. Dimana penekanan dalam proses pendidikan terhadap sisi visi pendidikan dan moral dilakukan lebih dalam. Dimulai dengan sistem dan alokasi khusus untuk menekankan hal ini serta upaya pembentukan kurikulum berbasis moral and vison approach.

Berlanjut ke kebutuhan mendasar masyarakat yaitu pangan. Kita mesti menggalakan solusi terhadap krisis pangan. Yaitu dengan produksi pangan nasional sebagai tumpuan sehingga kemandirian dan kedaulatan dapat dicapai. Berangkat dari kesadaran bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Namun, sangat disayangkan manusianya belum bisa mengolah dengan baik. Maka perlu ada upaya strategis dan berkelanjutan dalam menggalakan produksi pangan nasional. Komponen pangan nasional meliputi pertanian, peternakan, dan perikanan beserta pengolahan dan pemasaranya. Maka yang pertama harus dibangun adalah kesadaran masyarakat bahwa bekerja di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan bukan pekerjaan hina yang memiskinkan. Disini perlu peran serta kalangan intelektual dan pemerintah untuk mendorong. Pemerintah berfungsi sebagai pemersatu dan kolaborator berbagai komponen masyarakat sehingga ada high power dalam membangun sektor pagan. Kalangan intelektual yang mengenyam pendidikan di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan juga sangat dibutuhkan. Sehingga tidak ada lagi lulusan sarjana pertanian, peternakan, dan perikanan yang memilih bekerja di swasta atau alih sektor dibanding di bidang keilmuanya. Dengan adanya dorongan dari pemerintah dan kalangan intelektual maka masyarakat akan lebih peduli dan berkemauan untuk turut serta mendorong berkembangnya sektor pangan.

Kebijakan pemerintah bisa dimulai dengan melakukan hal yang sederhana dengan maping area. Sehingga setiap daerah memiliki alokasi khusus area mana saja yang harus diperuntukan untuk sektor pertanian, perikanan, dan peternakan, bukan untuk sektor lain. Karena selama ini faktanya banyak lahan yang harusnya diperuntukan untuk pertanian, peternakan, dan perikanan malah dialihkan ke sektor industri. Kemudian menunjang kebutuhan petani dengan pembinaan berkelanjutan sehingga para masyarakat tersebut merasa tidak sendirian dan berkembang secara bertahap dan terencana. Konsep Agro Point yang ada di setiap desa pengkhususan pertanian, peternakan, dan perikanan menjadi salah satu mimpi saya di masa depan. Daerah dimana memiliki karakter pengembangan pertanian, peternakan, atau perikanan kita sebut sebagai area percepatan budidaya. Diarea tersebut memiliki agro point yang menjadi pusat pengembangan pertanian. Di agro point tersebut menyediakan berbagai kebutuhan terkait budidaya dengan harga murah dan subsidi pemerintah, misalnya pupuk dan bibit. Yang berbeda adalah disini petani juga dibina. Upaya pembinaan dan pendampingan ini bertujuan agar segala kesulitan dan hambatan yang dialami petani bisa teratasi. Pusat pengembangan ilmu pengetahuan aplikatif juga ada disini. Dimana kumpulan ahli melakukan penelitian, pengembangan, dan implementasi pada langsung pada petani setempat. Dengan integrasi sedemikan rupa maka akan terjadi peningkatan produksi pertanian, peternakan, dan perikanan  secara signifikan.

Saturday, April 18, 2015

Mengenal Advokasi Kemasyarakatan

Standard
Sebagaimana tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa Advokasi bermakna “pembelaan” . Sedangkan masyarakat bermakna sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yg mereka anggap sama. Maka advokasi kemasyarakatan berarti upaya pembelaan terhadap perihal mengenai masyarakat.

Advokat adalah orang yang melakukan upaya advokasi. Secara ansich hanya dapat dilakukan oleh seseorang secara legal formal di dalam proses peradilan. Maka advokasi yang demikian disebut advokasi litigasi. Sedangkan suatu upaya pembelaan yang bisa dilakukan oleh siapapun yang memiliki semangat untuk membela jiwa yang tertindas dan mereka yang menjadi korban ketidakadilan disebut advokasi non litigasi.

Ada beberapa langkah dalam proses advokasi. Yaitu investigasi, studi kebijakan dan analisis, perumusan planing of action, deseminasi, community empowerment and development, serta pendampingan dan pengawasan.

Proses investigasi adalah kegiatan mengumpulkan data secara lengkap dan valid sebagai basis advokasi. Data yang diperlukan bisa berupa data kuantitaif, informasi subjek, media masa, stakeholders, dan literatur ilmiah. Proses investigasi menjadi suatu hal yang sangat penting karena akan mempengaruhi langkah selanjutnya. Jika data yang didapat dari investigasi keliru maka menyebabkan analisis dan penyikapan kemungkinan besar keliru. Tak heran sering kali proses advokasi menghabiskan waktu cukup banyak dalam proses investigasi.

Thursday, April 16, 2015

Refleksi Pencarian

Standard
Hidup ini mengajarkan kita untuk menikmati segala proses. Memaknai bahwa setiap langkah yang kita tapaki sekarang merupakan bagian dari masa lalu sekaligus masa depan. Begitu indahnya proses ini jika kita telah berhasil memaknai arti hidup.

"Dirimu seperti yang kau pikirkan"

Pencarian tiada henti akan selalu menemani perjalanan hidup, bahkan sampai kapan pun mungkin akan tetap mencari, menghayati makna hidup dan kehidupan yang serba misterius. Mencoba menjawab segala tanya di pikiran, yang semua itu hanya akan terjawab dengan terus mencari, mencari, dan mencari.

Sampai suatu saat nanti kita  temukan alasan-alasan  kenapa Tuhan takdirkan kita disini, sebagai manusia yang punya akal dan kehendak.

Biarlah pencarian ini terus berjalan. Biarlah berbagai tanya makin menjalar di tiap neuron sebagai pertanda bahwa memang benar kata mereka, kita masih bodoh, maka harus terus belajar, mengejar ketertinggalan akan ilmu yang melangit.

Biarlah kita hidup apa adanya, karena kamu adalah kamu, aku adalah aku. Berusaha berkompromi terhadap segala kekurangan dan kelebihan diri. Kesederhanaan dan sikap apa adanya itulah yang akan membuatmu mengakui bahwa engkau manusia, punya kekurangan. Tak perlu ada gengsi dalam diri, mengakui kekurangan adalah bentuk dari kedewasaan pikir dan awal yang baik untuk menjelma menjadi sosok luar biasa. Tanpa pengakuan terhadap kekurangan, hanya akan ada manusia yang angkuh dan berhati kerdil.

Hei kawan, kamu mau jadi seperti apa?. Terserah kamu. Maka gambarkan maumu dengan jelas, makin jelas. Berproseslah makin kuat, makin tangguh. Bermesralah dengan Tuhan yang Maha Cinta, satu-satunya yang setia dimanapun, kapanpun, dalam keadaan bagaimanapun. 

Tidak semua orang berhasil memaknai hidup dengan tepat, bahkan begitu banyak yang harus berkubang lumpur hina karena salah memaknai hidup. Bagi kamu yang masih dan terus mecari, dengarkan senandung indah di setiap degup jantungmu.

"Manusia menjadi mulia bergantung isi hatinya"