Thursday, February 7, 2013

Skala Prioritas dalam Kehidupan

Standard


"If life is so short, why do we do so many things we don't like and like so many things we don't do? What if we reversed this?" (Tonyrobbins)

Terkadang banyak banget yang kita inginkan dalam kehidupan ini. Banyak mimpi-mimpi besar yang coba kita ukir untuk menjadikan hidup kita indah. Saking banyaknya ga jarang apa yang kita mimpikan itu memacu kita untuk bekerja lebih keras, berjuang lebih tangguh, pantang menyerah dan mengorbankan banyak hal. Tapi kadang ada yang lupa, sekalipun gelora semangat kita menjulang setinggi langit ada satu yang ga bakal berubah. "We Have Limited Time!!!", setiap manusia punya 24 jam dalam sehari, waktu yang sangat terbatas untuk mengejar sejuta angan di otak ini. Belum lagi umur kita pun terbatas, sekalipun ga tau tepatnya sampe kapan kita dikasih kesempatan untuk tetap di dunia ini oleh Tuhan. Yang jelas "We Have Limited Time!!!".
Kadang jadi kepikiran juga sih, ketika seseorang yang punya banyak potensi dalam dirinya malah jadi bingung. "What should I do now?". Oke lah mungkin sebagian orang hebat udah tau apa yang harus dia lakukan saat menghadapi masa bimbang seperti ini. Tapi nyatanya masih ada yang bingung dan butuh perjuangan untuk mengatasi masa itu. Masa dimana sejuta potensi malah jadi hambatan untuk berprestasi. Wah wah wah, kalo ga segera ambil keputusan mungkin bakal jadi kacau yah semuanya.
Nah, ketika agan pembaca ternyata juga punya masalah yang sama kaya orang yang satu ini yuk segera benahi diri melangkah dengan pasti!. Oh ya, ini juga sebenernya bukan cuma masalah orang yang multi potensi loh, tapi juga orang yang punya multi job dan khususnya seorang "Dreamer" yang punya banyak mimpi. Ga usah khawatir, lanjut aja bacanya. Insya Allah dapet pencerahan.
Mungkin ada yang masih bertanya-tanya, gimana yah caranya?, apakah kita harus memilih salah satu saja dan meninggalkan yang lain?. Ow ow ow, tentu saja tidak guys. Ciyus nih mau tau?hahaha... Oke deh aku kasih tau. Yang harus kita lakukan adalah menentukan SKALA PRIORITAS. "What is that?"
Ehm, SKALA PRIORITAS adalah membuat pemetaan mengenai hal yang paling utama samapai yang kurang utama dalam mimpi, job maupun potensi kita. Misalkan aja nih, saat ini saya kuliah mau semester 2. Sebenernya banyak banget target yang ingin saya capai di semester 2 ini. Dari mulai harus juara nasional lomba Essay, IP>3,6, aktif di 4 organisasi fakultas yang saya ikuti, les bahasa inggris supaya bisa dapet scholarship ke luar/exchange, artikelku dimuat di media masa, hafal Qur'an jus 30, nulis rutin tiap bulan buat update blog, dapet beasiswa, lolos seleksi PKM, ikut PIMNAS, dan belajar tiap hari. Ditambah lagi ada 1 amanah yang lain, yaitu mesti rutin menghafalkan salah satu kitab nahwu tiap hari. Hmmm, lumayan banyak sih, tapi "I'll do the best".
Dari pada aku bingung dan malah menghapus mimpi-mimpi besar itu akhirnya aku pilih untuk membuat "Daftar Skala Prioritas" sebagai berikut:
1.     Menuntut ilmu (ukhrowi dan duniawi)-ibadah
2.     Organisasi (wujud tanggungjawab)
3.     Prestasi-menulis
Selain membuat skala prioritas secara garis besar juga butuh penjadwalan. Contoh implementasinya gini nih:
 1.     Rutin menghafal Qur’an Jus 30 setiap ba’da subuh
 2.     Belajar materi kuliah setelah Menghafal Qur’an Jus 30 (Dalam rangka IP>3,6 )
 3.     Rutin menghafalkan salah satu kitab nahwu setiap ba’da Tadarus Qur’an Maghrib
 4.     Les Bahasa Inggris (supaya bisa dapet scholarship ke luar/exchange, sabtu-minggu)
5.     Tugas kuliah dikerjakan ba’da isya
6.     Tugas organisasi dikerjakan setelah tugas kuliah kelar (tak boleh mengganggu akademik)
7.     Saat Free tugas waktu digunakan untuk belajar dan menulis (50:50)
8.     Persiapan lomba tak boleh mengganggu waktu yang target yang lebih utama    (menyesuaikan)
9.     Ditekankan sudah dikos sebelum 18.00 WIB (pengondisian)
10.  Rapat organisasi tak boleh mengganggu kegiatan menuntut ilmu
Nah itu contoh menurut aku, tiap orang punya prioritas target yang beda-beda. Jangan lupa juga, selain perencanaan yang jauh lebih penting adalah masalah "Effort". Janganlah kita tertekan karena berpikir tentang hasil yang akan kita capai, yang bisa kita lakukan sebagai manusia adalah BERUSAHA dan BERDO'A dengan sungguh-sungguh. Masalah hasil itu urusan Allah SWT. So, jangan pernah menyerah untuk mewujudkan target dan mimpi kita. Perbaiki kualitas, perbaiki masa depan!. Semoga bermanfaat :)

Tuesday, January 22, 2013

Billion Directions: Rohani Islam SMAN 2 Purwokerto

Standard
          "Hidup adalah Pilihan, Segeralah Tentukan Pilihanmu atau Pilihan Akan Menentukan Hidupmu" Nicholas Cage (Death Racer Movie)

          Well, kali ini gue bakal share sebuah pengalaman tak terlupakan dengan gaya bahasa yang beda sama tulisan gue biasanya (nyoba variasi-non baku). "Billion Direction", apa sih yang pertama kali terlintas dibenak loe pada pas denger frasa itu?. Banyak banget tentunya, kalo buat gue pribadi nih yang namanya "Billion Direction" adalah arahan hidup tiap orang yang beda-beda, saking bedanya adi berbillion-billion deh. Yah simplenya setiap dari kita bakal ngadepin 1 titik kritis yang mbuat kita harus milih kemana langkah kita selanjutnya. Kalo kata orang, salah satu titik kritis kehidupan itu pas masa-masa remaja. Why?, menurut mereka masa mencari jati diri seorang remaja bakal ngaru banget sama kehidupan mereka pas tua nanti. Dari situ sebenernya gue lebih condong ke masa remaja waktu SMA sih. Ya karena emang disitulah masa-masa remaja bener-bener terasa. Dan bahkan amat terrasa waktu mau ngadepin "Big Event" semacem SNMPTN ato apa aja deh terkait seleksi mau masuk Perguruan Tinggi. Nah ini dia nih "Big Event" yang bakal nentuin kehidupan remaja pas tua nanti. Mau jadi guru, polisi, dokter ato apapun itu, disinilah penentuannya. Kaya yang satu ini, cerita tentang gue dan sahabat-sahabat terbaik gue waktu SMA. Mereka udah banyak banget ngasih impact positive buat gue. Semuanya berawal ketika kita jadi deket dan saling mengenal lewat sebuah LDS alias lembaga dakwah sekolah yang sering kita sebut ROHIS. Dari situ gue banyak banget dapet filosofi hidup yang bikin hidup gue dikelilingi motivasi yang seabrek. Mereka juga udah bikin gue punya semangat buat terus menjadi lebih baik. Kalo diceritain, banyak banget deh pokoknya impact positive dari mereka. Alhamdulillah banget gue pernah dapet sobat se"inspiring" mereka. Kurang lebih 3 taun bareng-bareng akhirnya kita sampe dipenghujung SMA dimana kaya yang udah gue sebutin tadi, akhirnya kamipun berjumpa dengan "Big Event" itu. Tapi oke lah kami optimis, ini hidup ada pertemuan dan ada perpisahan. Saat kami harus berpisah dan ga bareng lagi di satu tempat bukan berarti juga kan persahabatan kita bakal hilang gitu aja. Disinilah kami memilih jalan hidup kami masing-masing. Jalan kami untuk beramal dan mengukir sejuta cita disana. Beda banget sih, makannya cocok banget kalo gue bikin ni judul posting "Billion Direction. Sama kaya pilihan hidup kami yang beda-beda. Setelah melalui perjuangan dan perjalanan yang panjang, akhirnya kami sampe di tempat yang kami pilih sebagai "Main Direction" dalam hidup kami masing-masing. Namun  sekali lagi gue tegasin, walopun kami ga bareng lagi di satu tempat bukan berarti ukhwah kami luntur sampe disini. Insya Allah ukhwah yang udah kami ukir selama 3 taun di SMA bakal terus melekat di hati dan terrealisasikan lewat silaturahim. Maka dari itu, kami udah sepakat tiap 6 Syawal bakal ngadain kumpul bareng sebagai wahana silaturahim. Kayaknya ga lengkap nulis "Billion Direction" ini kalo ga ada bukti kemana aja sih "Direction" yang kami pilih setelah lulus SMA, so, check it out. Semoga bisa bermanfaat buat setiap orang untuk lebih bisa memaknai perpisahan, bahwa ketika kita ga bareng lagi di satu tempat yang sama bukan berarti semuanya selesai. "Ukhwah Never Ending with Silaturahim".
Salam Ukhwah, Mokhamad Ali Zaenal Abidin.

"Billion Direction" disusun urut berdasarkan NPR dan maaf jika belum semua pengurus ROHIS SMAN 2 Purwokerto lulusan 2012 tercantum disini karena beberapa hal.

Sunday, January 20, 2013

Penanganan Gizi Buruk di Wonogiri

Standard


Pendahuluan
Sebagai negara berkembang, Indonesia tentu tidak luput dari masalah gizi. Indonesia memiliki dua masalah gizi, yaitu gizi kurang dan gizi lebih. Kasus kurang gizi di Indonesia meliputi  KEP (Kekurangan Energi Protein), KVA (Kekurangan Vitamin A), GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium), serta AGB (Anemia Gizi Besi). Sementara, kasus gizi lebih di Indonesia terjadi karena adanya ketidakseimbangan dalam pemasukan dan pengeluaran energi pada tubuh di masyarakat. Selain itu,  pertumbuhan ekonomi juga sangat berpengaruh pada  gizi lebih. Masalah gizi di Indonesia diantaranya disebabkan oleh kemiskinan, kurangnya pengetahuan tentang gizi, kurangnya pengetahuan tentang menu seimbang dan kesehatan masyarakat, lingkungan yang tidak memiliki kualitas kesehatan yang baik, kurangnya kesediaan pangan, serta keterbatasan dalam pengolahan pangan (Almatsier, 2001). Selain itu, faktor lain seperti aspek biologis, kebudayaan, serta nilai-nilai tradisional juga menjadi salah satu penyebab adanya malnutrisi terutama pada balita yang disebabkan oleh kesalahan perilaku ibu saat masa kehamilan (Am J Clin Nutr, 2000 cit Jose O Mora dkk., 2012).  Diantara berbagai faktor yang menyebabkan masalah gizi tersebut, ada dua faktor utama yang memicu tingginya kuantitas masalah gizi di suatu wilayah. Faktor utama tersebut adalah faktor demografi dan lingkungan. Faktor demografi atau kependudukan erat kaitannnya dengan jumlah dan distribusi penduduk di suatu wilayah (Wikipedia, 2012). Sedangkan faktor lingkungan berkaitan dengan ketersediaan sumber daya alam  untuk memenuhi kebutuhan penduduk dalam lingkungan tersebut. Faktor lingkungan memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan penduduk yang ada di dalamnya dikarenakan sumber daya alam yang terbatas pula. Sedangkan jumlah penduduk yang terlalu besar di suatu wilayah akibat dari distribusi penduduk yang tidak merata akan memperbesar beban faktor lingkungan dalam memenuhi kebutuhan penduduk tersebut.

Permasalahan
Sebagaimana berita yang termuat di Solo Pos edisi 23 November 2012, Tika Sekar Arum menyampaikan bahwa salah satu kasus gizi berupa malnutrisi ditemukan di daerah Wonogiri beberapa waktu yang lalu. Masalah gizi buruk di Wonogiri meningkat pesat di 2012 dibandingkan 2011. Kasus gizi buruk yang terjadi di Wonogiri pada umumnya terjadi karena kemiskinan yang melanda daerah tersebut. Hal itu berkaitan erat dengan keterbatasan faktor lingkungan dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduk di wilayah tersebut. Selain kemiskinan, menurut beliau kasus gizi buruk tersbut disebabkan karena kesalahan pola asuh dan juga penyakit kronis yang dikarenakan banyak ibu yang bekerja ke luar daerah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,  sehingga asupan gizi anak tidak diatur dengan baik. Berbagai upaya telah dilakukan seperti penanganan bersama puskesmas dan posyandu daerah Wonogiri, Program Makanana Tambahan (PMT), pemantauan, penanganan berdasarkan BBU atau berat badan menurut umur, serta penanganan kesehatan ke klinik gizi  berdasarkan BBTB atau berat badan dan tinggi badan. Sehingga kasus gizi buruk di Wonogiri telah mengalami penurunan secara signifikan. Namun, masih tetap ada beberapa kasus yang belum dapat ditangani karena adanya penyakit bawaan yang menyertai anak tersebut.

Penyebab Kasus Gizi Buruk di Wonogiri
Kasus gizi buruk di Wonogiri disebabkan oleh dua faktor utama yaitu faktor demografi dan lingkungan yang termanifestasikan dalam wujud kemiskinan, penyakit kronis pada balita, dan kesalahan pola asuh orang tua. Pada bagian ini, akan dijelaskan bagaimana ketiga subfaktor tersebut dapat mempengaruhi kasus gizi buruk di Wonogiri.
a.      Kemiskinan
Pada tahun 2007, Tanumihardjo, S.A. dkk. menjelaskan bahwa akibat kemiskinan yang tidak dapat dihindari adalah terjadinya kelaparan dan ketidakkokohan pangan. Menurut US Departmen of Agriculture (National Research Council, 2006) dan Food and Agriculture Organization (FAO, 2007) dalam Tanumihardjo, S.A. dkk. (2007), kelaparan adalah sensasi gelisah atau menyakitkan karena kekurangan makanan yang bersifat involunter (tidak disengaja). Sedang ketidakkokohan pangan merupakan keadaan dimana seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan diet dan pilihan makanannya untuk hidup aktif dan sehat karena memiliki akses fisik, sosial, dan ekonomi yang terbatas terhadap makanan yang cukup, aman, dan bernutrisi. Kelaparan dan ketidakkokohan pangan tersebut selanjutnya dapat menyebabkan malnutrisi (American Dietetic Association, 2007). Oleh karena itu, kemiskinan yang terjadi akibat ketidak mampuan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan penduduk di wilayah tersebut perlu segera diatasi.

Saturday, December 22, 2012

Bimsalabim Indonesia

Standard

Terperanjat ajat
Awak  hidup modal badan cuma
Seujung benangpun tiada punya
Malang benar nasib awak
Di tanah rantau tiada bekal

Bimsalabim
Derma Tuhan budi hendak
Tiada sangka
Bayangpun tanpa
Nyatanya makmur raga melanda
Pungut sembarangpun kian sejahtera
Mana tempat ada saja rezekinya
Heran mata tanya
Sihir apa nagari guna?

Sunday, November 11, 2012

Umi dan Bapak, Engkaulah Malaikatku di Dunia

Standard
Umi dan Bapak engkaulah malaikatku di dunia. Sejak aku dalam kandungan engkau selalu berusaha merawatku dengan baik, menjagaku, dan menyayangiku. Saat aku terlahir ke dunia, engkaulah perantara Allah untuk membimbingku ke jalan yang lurus. Di awal hidupku engkau berikan do'a mulia dalam wujud nama yang indah, pertanda harapanmu kepadaku. Engkaulah manusia paling awal yang mendidikku, memberikanku ilmu, mendekatkan aku pada Rabb semesta alam. 
Dari engkaulah ku memahami dunia ini. Aku sangat bersyukur kepada Allah SWT karena memiliki orangtua seperti kalian. Orangtua yang memahami hakikat hidup ini dan mengajarkannya kepadaku. Engkau ajari aku ilmu agama yang akan menjadi bekal utama dalam hidupku. Sebagai penerang bagi hidupku sehingga aku tak akan tersesat dalam kegelapan.
Engkau suri tauladan bagi kami putra putrimu, tak hanya berkata ataupun menyuruh tapi engkau mencontohkannya kepada kami anak-anakmu. Langkah kami dalam kehidupan ini terasa  tenang karena engkau mengajari kami untuk sholat. Setiap perbuatan kami adalah sedekah karena kau ajarkan kami untuk berbagi. Setiap langkah kami bermakna keikhlasan karena engkau telah mendidik kami untuk berserah diri kepada Allah. Hidup kami selalu indah karena engkau mengajari kami untuk terus memperbaiki diri.  Umi dan Bapak, engkaulah tauladan nyata dalam hidupku.
Jika harus ku pilih satu pahlawan dalam hidupku setelah Rosululloh maka kalianlah yang akan jadi pahlawan itu, pahlawan dalam hidupku. Pahlawan yang selalu berjuang tanpa lelah untuk mendidikku, membesarkanku  dan menjadikanku sosok muslim yang semoga diridhoi Allah SWT. Dalam malammu engkau jaga aku, tak hiraukan kantukmu, menyusui aku, mengganti popokku, dan tak pernah  tidur lelap sepanjang masa bayiku. Saat aku beranjak balita engkau masih setia menjagaku, nakal dan rewelku tak membuat engkau membenciku karena bagimu aku adalah separuh nyawamu. Kini akupun telah remaja dan hampir beranjak dewasa namun ternyata engkau masih sangat setia menjagaku, membimbingku dan tak ingin melihatku di jalan yang salah. Setiap hari engkau menghubungiku dari kota yang jauh disana hanya untuk tau keadaanku. Dan bahkan sampai kapanpun engkau akan selalu ada disampingku, mendampingiku, menimang putra putriku kelak dan berbahagia dalam setiap kebahagianku. Oh Umi dan Bapak engkau adalah pahlawan hidupku.

Friday, November 2, 2012

Pemuda Muslim Ideal dimataku, Sosok Tauladan dalam Kehidupan

Standard

Pemuda adalah sosok pewaris peradaban. Sosok yang akan mengemban amanah dari para pendahulunya. Ia berperan sebagai agen futuritas kehidupan. Sikapnya dimasa ini akan menentukan masa depan zamannya. Pemuda adalah tiang penyangga masa depan.

Dalam Islam, masa muda dipandang sebagai masa keemasan kehidupan manusia. Bahkan karena begitu pentingnya masa muda, Islam sangat memuliakan orang yang menghabiskan masa mudanya dengan ibadah kepada ALLAH.  Rasulullah SAW bersabda dalam hadits Abdullah bin Mas’ud RA, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tirmizi). Hadits tersebut menunjukan bahwa masa muda itu sangat penting.

Jika masa muda adalah masa yang sangat penting, lalu bagaimanakah sosok pemuda muslim ideal yang sesungguhnya?.  Bagaimana seharusnya ia bersikap?. Pemuda muslim ideal adalah pemuda yang memiliki semangat tinggi untuk menuntut ilmu. Menjadikan ilmunya sebagai dasar berakhlak mulia. Menjadikan setiap akhlak mulianya bermanfaat bagi agama, keluarga dan masyarakat. Serta menjadikan seluruh sikap hidupnya sebagai ibadah dan dakwah yang istiqomah. Pemuda muslim ideal adalah teladan dalam kebaikan.

Sudah seharusnya kita beramal dengan didasari ilmu yang haq. Ilmu yang akan menjadikan amalan kita bernilai ibadah dihadapan ALLAH SWT. Dengan ilmulah keridhoan ALLAH akan semakin dekat kepada kita. Jika diibaratkan, ilmu itu bagaikan ruh dalam jasad yang berupa amalan. Sehingga amalan yang tanpa didasari ilmu bisa jadi serupa dengan jenazah yang merupakan jazad tanpa ruh. Maka, sudah seharusnya pemuda muslim ideal selalu bersemangat untuk menuntut ilmu sebagai landasan amalannya.

Wujud nyata dari ilmu adalah amalan. Setelah memperoleh ilmu sesegera mungkin seorang pemuda muslim mengaplikasikannya melalui amalan sholeh. Amalan yang sudah diniatkan sebagai ibadah kepada ALLAH SWT. Dengan amal yang didasari ilmu maka lengkaplah sudah jazad ibadah seorang muslim. Setiap geraknya bernilai ibadah, setiap ucapannyapun selalu bermanfaat dan hidupnya Insya ALLAH berkah.

Tuesday, October 30, 2012

Berpadu seperti Lampu, Menuju Indonesia Maju

Standard

Indonesia adalah zamrud katulistiwa yang membentang luas. Tanah air pusaka yang diperjuangkan dengan taruhan harta dan nyawa. Anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa melimpah ruah disana. Kekayaan alam tiada tara menjadi bekal bagi penghuninya. Negara kaya raya yang terletak ditengah samudra. Negara yang subur tanahnya, cocok untuk bertanam. Negara yang ramah penduduknya, menjunjung tinggi adat ketimuran. Adat yang terkenal dengan keagungan etikanya. Penduduknya sangat toleran hidup dalam keberagaman meski banyak rintangan. Inilah Indonesiaku yang kaya raya.
Sering kita mendengar pujian terhadap bangsa ini, tapi pernahkah kita merasa tersindir dengan pujian itu?. Lihatlah kenyataan bahwa Indonesia yang dikatakan kaya raya, ternyata masih banyak penduduknya yang hidup dalam kemiskinan. Negara ini sedang mengalami kemiskinan akut. Kemiskinan multidimensi yang semakin mewabah: miskin harta, miskin moral, miskin ilmu dan begitu banyak kemiskinan lain yang melanda bangsa ini. Inilah Indonesia yang kaya tapi miskin.

Sudah terlalu lama republik ini menunggu kemerdekaannya yang sesungguhnya. Saat ini kita masih hidup dalam kemerdekaan yang semu. Merdeka bermakna bebas menjalani kehidupan, namun faktanya bangsa ini masih sangat bergantung terhadap bangsa lain. Impor demi impor dilakukan: impor pangan, impor ilmu dan bahkan impor kebijakan. Lalu apakah pantas bangsa yang kaya raya ini terus bergantung terhadap bangsa lain sebegitu besarnya?.

Sekitar 250 juta penduduk Indonesia harus siap menghadapi tantangan global saat ini. Tantangan yang menuntut keterlibatan seluruh individu bangsa  untuk berjuang secara total. Lantas, yakinkah kita bahwa golongan miskin dan tak berpendidikan akan peduli dengan tantangan ini sedangkan merekapun tak pernah dipedulikan?. Tentu tak akan sedikitpun mereka peduli. Hanya ada kata pasrah di benak mereka. Padahal kita butuh perjuangan, bukan kepasrahan.

Haruskah bangsa ini kalah dalam persaingan hanya karena golongan yang termarginalkan?.  Lantas bagaimana solusinya?. Tampaknya, solusi terbaik dalam masalah ini adalah meningkatkan kepedulian. Jika kita ingin mereka peduli terhadap kemajuan bangsa ini, maka pedulikanlah mereka sebagai bagian dari bangsa ini. Berikan mereka semangat baru untuk hidup menuju kemenangan. Sadarkanlah mereka bahwa mereka adalah bagian penting dari bangsa ini. Tanpa mereka, kita tak akan mampu menghadapi tantangan zaman.

Hal penting yang harus kita ingat, di dalam golongan yang termarginalkan itu terdapat pemuda yang merupakan benih-benih masa depan bangsa. Pemuda adalah orang-orang yang akan menerima tongkat estafet perjuangan dari para pendahulunya. Mereka butuh bekal yang cukup untuk menjalankan tanggung jawabnya di masa depan.

Setiap pemuda berhak untuk memiliki masa depan yang cerah. Walaupun mereka termarginalkan, mereka tetap bagian dari bangsa ini. Jadikanlah mereka lampu yang mampu bersinar terang atau jika kita tak sudi melakukan itu, biarkanlah mereka tetap termarginalkan dan hidup sebagai benalu bagi bangsa ini di masa depan. Jika demikian, tunggulah kehancuran bangsa ini.