Tuesday, May 10, 2016

3 Bulan Inspiranesia

Standard
Kesyukuran yang mendalam adalah saat mengenal kalian, sosok hebat dimataku. Terimakasih pada segenap punggawa Kabinet Inspirasi Indonesia BEM KM UGM 2016. Aku disini bukan karena aku yang terbaik dan lebih baik dari kalian. Melainkan karena aku lah yang dibebankan secara lebih untuk memikul tanggungan ini.

Aku mencintai kalian. Sekali lagi aku belajar tentang cinta bukan dari kekasih. Tapi cinta itu tumbuh karena keikhlasan, karena senyum, karena semangat kalian yang menyala. Sungguh aku mencintai kalian. Cinta yang hadir atas dasar persaudaraan, perjuangan, dan persahabatan.

Tiga bulan ini telah mengajariku banyak hal. Pembelajaran yang sangat berharga bagi seorang mahasiswa gizi angkatan atas. Yang tentu minim pembelajaran tentang sosial. Dan disini aku belajar.
Waku memang tak akan kembali. Demikian pula dengan tiga bulan yang telah berlalu. Alhamdulillah kita telah melewati tiga bulan pertama dengan baik. Semoga dengan evaluasi bersama, di waktu yang tersisa kita akan lebih banyak menebar kebaikan serta menginspirasi Indonesia, semoga.

Perjuangan ini memang tak ringan. Tapi kebersamaan ini akan menguatkan, terutama bagiku. Sebagaimana Musa yang memohon pada Tuhan agar menjadikan Harun sebagai penguat disisi-nya demikian pula denganku. (AZ)

*selengkapnya tentang laporan kerja tiga bulan Kabinet Inspirasi Indonesia BEM KM UGM 2016: http://ugm.id/laporan3bulan. #latepost

Keberuntungan

Standard
Kawan apa makna keberuntungan menurutmu? Bagi ku keberuntungan adalah tentang kesempatan yang bertemu dengan kesiapan. Saat kesempatan datang tapi kita dalam kondisi tak siap, maka lewatlah. Tak ada keberuntungan buat kita yang demikian. Sebaliknya, saat kesempatan itu datang dan kita dalam kondisi siap menerima kesempatan itu, maka beruntunglah kita.

Lebih dari itu keberuntungan sama sekali tak bermakna kepasifan. Keberuntungan adalah tentang keaktifan diri untuk menuju derajat siap. Hingga pada akhirnya pertemuan antara kesempatan dan kesiapan itulah yang akan berbuah manis.

Keberuntungan tak mengajarkan kita manja dan berpangku tangan. Keberuntungan mengajarkan kita berjuang dan terus memperbaiki diri. Selalu berkaca, mendengar kata orang, serta menekan ego guna perbaikan diri.


Ada lagi, keberuntungan adalah tentang kondisi yang membaik di setiap satuan waktu. Bagi kita yang selalu saja mengalami peningkatan kualitas pribadi. Serta terus mengoptimalkan produktifitas dan belajar, itulah keberuntungan. Itu lah keberuntungan, yaitu tentang nilai diri yang bertambah. (AZ) 

Sunday, May 8, 2016

Islam & Indonesia sebagai Identitasku

Standard
Menjadi seorang muslim (orang yang beragama Islam) bukan sekadar status. Namun, sebuah pilihan yang mengandung banyak konsekuensi. Seorang muslim wajib mengamalkan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Yang barang tentu keduanya sama sekali tak ringan. Sebagaimana karakter jalan dakwah (jalan hidup seorang muslim) itu sendiri yang berkelok, panjang, menanjak, penuh duri dan sepi. Namun, sekalipun demikian ini lah jalan terbaik yang harus ditempuh untuk mendapat ridho-Nya. Saksikanlah bahwa aku seorang muslim.

Bagi saya menjadi seorang muslim berarti siap untuk selalu melakukan perbaikan pada diri sendiri dan umat. Perbaikan diri yang konsisten dan berkesinambungan menjadi sangat penting. Sebagaimana Allah tegaskan bahwa barang siapa yang menjadi lebih baik di setiap satuan waktu mendatang akan mendapat keberuntungan, barang siapa yang statis akan mendapat kerugian, dan barang siapa yang lebih buruk akan celaka. Bisa kita pahami perbaikan diri menjadi sangat penting karena tak mungkin mampu pribadi bermasalah menjadikan umat lebih baik. Kesadaran kolektif akan pentingnya perbaikan diri akan menjadikan kondisi umat pun membaik.

Maka, bersama perbaikan diri perlu ada segolongan kaum yang menyeru pada kebajikan, membangkitkan kesadaran akan pentingnya perbaikan pribadi. Itulah kemudian yang kita sebut sebagai orientasi dakwah. Yaitu menyeru dan memperbaiki umat dengan melakukan penyadaran serta memberi pemahaman dan pengetahuan. Sekali lagi ini jalan yang tak mudah, berkelok, panjang, menanjak, penuh duri dan sepi. Tapi inilah jalan dakwah, jalan seorang muslim mengarungi kehidupanya.

Tiga paragraf di atas menegaskan bahwa aku adalah seorang muslim. Sedangkan pada paragraf ini aku akan menegaskan tentang identitasku sebagai seorang Indonesia. Yang mana identitasku sebagai seorang muslim berhubungan erat dengan identitasku sebagai seorang Indonesia. Islam mengajarkan pada pemeluknya agar memiliki nasionalisme yang tinggi pada negaranya. Seorang muslim mestilah membela negaranya mati-matian, mencintainya, dan bersemangat dalam membangun negaranya. Pun demikian, negaraku Indonesia adalah negara yang lekat dengan Islam, dari mulai sejarah, kultur masyarakat, hingga asas negara yang menekankan poin ketuhanan yang maha esa.

Indonesia bagiku bukan sekadar kumpulan pulau dan lautan, namun juga barisan manusia-manusia yang ditakdirkan Allah untuk saling mengenal dalam bingkai keragamannya. Kita sama-sama mengerti, jika bicara manusia tak selesai pada angka catatan sipil yang ada. Tapi bicara soal manusia adalah tentang komponen jiwa dan raga yang menyatu. Dan kedua komponen itu ada pada  dua ratus lima puluh juta manusia Indonesia. Hingga bagiku ke-Indonesian-an ku adalah tentang perjuangan mati-matian untuk menjadikan negara ini lebih baik.

Inilah aku seorang pemuda muslim Indonesia yang telah bertekad dalam diri untuk selalu memperbaiki diri dan melakukan perbaikan pada Indonesia tercinta. Bismillah. (AZ) 

Tekad Perbaikan

Standard
Banyak kekurangan. Manusia memang begitu, tempatnya salah dan khilaf, jauh dari sempurna. Selama ia hidup akan selalu ada kekeliruan yang dibuat, itulah hakikat.

Namun bukan berarti harus menyerah. Seolah wajar saja salah diperbuat. Tidak begitu. Timbangan salah mesti ditekan, hingga akhirnya kebaikan lebih berat adanya.

Memperberat kebaikan menjadi kunci. Maka, progresifitas amal adalah keharusan. Konsistensi dengan grafik menanjak adalah bukti nyata tekad  bulat dalam bingkai perbaikan diri.

Kita sadar, tak ada perubahan instan. Melainkan butuh proses bertahap dan panjang, penuh kesabaran. Disinilah letak perbedaan, mana yang punya tekad, mana yang tidak, ini tentang kesabaran.

Hingga akhirnya di penghujung hayat pun akan kita lihat siapa yang paling konsisten mengusung visi perbaikan.

Monday, April 11, 2016

Persatuan Kita

Standard
Setidaknya 2 aksi yang sudah kita lakukan secara bersama-sama menjadi saksi bahwa gerakan mahasiswa di UGM masih hidup dan akan terus bertransformasi sesuai zamannya. Kita sadar bahwa UGM tak baik-baik saja, maka kita ingatkan dengan lembut ayah-ibu kita. Persatuan adalah kekuatan kita, jika kita menginginkan perubahan maka persatuan tak bisa lagi ditawar.

Ini UGM kita, aksi yang kita lakukan bukan karena kita benci, justru karena kita cinta pada UGM dan menginginkan UGM yang lebih baik. Ini baru awal, butuh bukti cinta yang lebih utuh, pengorbanan, perjuangan, dan tentu kekonsistenan menjadi bekal perjuangan selanjutnya.

Kawan, jika kau lihat kekasihmu sedang tak baik-baik saja, apa yang akan kau lakukan? Berilah obat, sekalipun pahit tapi menyembuhkan.

(Aksi Menagih Janji UKT)

"ini tergantung bisnis masing-masing mas, tidak bisa disama-ratakan di semua universitas" kurang lebih demikian jawab Direktur Jendral Pembelajaran & Kemahasiswaan Kementerian Riset & Dikti saat ditagih kepastian regulasi nasional UKT.

Kalo pendidikan tinggi dibilang bisnis, lalu mahasiswanya apa? komoditas bisnis?Semua peserta aksi menjadi saksi atas komitmen beliau untuk segera merealisasikan 4 janji pemerintah terkait UKT. Tapi, satu hal yang harus mereka tahu, kami tak butuh janji dan omong kosong. Kami butuh realisasi, UKT berkeadilan untuk seluruh mahasiswa Indonesia. 


Ini adalah momentum titik balik gerakan mahasiswa Gadjah Mada dan Indonesia, bahwa kami masih ada dan akan terus berjuang hingga titik darah penghabisan.Terakhir, niat yang lurus adalah sumber kekuatan gerak kami, hingga tak akan mampu mereka membuat kami gentar, apalagi berbalik ke belakang. #UKTBerkeadilan #SinergiMahasiswaUGM #MenagihJanji


(Aksi Menolak Relokasi Kantin Bonbin)

“Bonbin tak sekadar kantin, tapi di sanalah ruang-ruang sosial antara mahasiswa dan rakyat nyata adanya sebagai saksi historis bahwa UGM ini masih kampus kerakyatan, jika bonbin direlokasi lalu dibangunlah Plaza Bank Indonesia didekatnya, lalu, masih pantaskah kampus ini disebut kerakyatan? ”

Aksi Tolak Relokasi Kantin Bonbin Sosio-Humaniora hari ini mempertegas kenyataan bahwa UGM sedang banyak masalah dan tak baik-baik saja. UKT bermasalah, peran mahasiswa yang makin direduksi dalam PPSMB, polemik pemilihan MWA unsur mahasiswa, tunjangan kinerja tenaga kependidikan yang tak kunjung dibayarkan, hingga relokasi kantin bonbin Sosio-Humaniora yang jelas-jelas mengada-ada.

Dan anehnya rektorat seolah tak bergeming dengan segala masukan, kritik, saran, dan pandangan masyarakat UGM. Terbukti di hari ini, ketika mahasiswa sudah menjelaskan berbagai kajian dari sektor kesehatan, perencanaan tata ruang, ekonomi, psikologis, hingga historis yang jelas-jelas ilmiah, mereka hanya berucap “terimakasih atas saranya, akan kami pertimbangkan”, kurang lebih demikian. Lalu harus bagaimana lagi kita? Aksi sudah, audiensi sudah, memaparkan fakta ilmiah yang mereka harapkan pun sudah.

Sudah saatnya mahasiswa UGM bersinergi menjadi satu. Lupakan sejenak kepartaian, sekat golongan, juga latarbelakang gerakan eksternal kita untuk kepentingan bersama. Tak ada lagi pilihan bagi kita, bersatu berjuang atau tergantikan! Karena diam adalah pengkhianatan.

Singkirkan Ego

Standard
Di setiap jejak perjalanan ini saya makin belajar. Kembali lagi meluruskan niat. Bahwa segala yang saya lakukan ini adalah ibadah pada Allah, tak ada yang lain. Pujian, cacian, apalagi sekedar ucapan terimakasih bukanlah tujuan. Niat yang lurus adalah kunci dari proses yang saya jalani ini. Sungguh disayangkan jika perbuatan baik tak didasari niatan yang lurus, jika demikian adanya terntu kebaikan itu menjadi tak bernilai sama sekali.

Lupakan ego golongan. Golongan hanyalah instrumen kebaikan itu sendiri, bukan tujuan. Layaknya mobil yang kita tunggangi hingga garis finish, golongan hanyalah mobil bukan garish finish yang ingin kita tuju. Lantas, masih kah kita bodoh dengan terus meletakan ego golongan dalam hati kita?

Sudah saatnya bersatu. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Kalimat bijak yang sering kita dengar sejak sekolah dasar. Kalimat yang tentu sudah mengkristal di pikiran kita. Tapi, kenapa seolah kalimat itu hanya hiasan saja? Kini sekat di antara kita masih sangat renggang. Saya rindu persatuan itu, ketika golongan hanya dijadikan instrumen saja, cukup itu, bukan tujuan utama yang mengedepankan ego. Yang harus dikedepankan hanya satu, Allah! Allah dulu, Allah lagi, Allah yang utama. (AZ)

Sunday, April 3, 2016

Mimpi Inspirasia

Standard
Kami hanyalah kumpulan orang biasa yang percaya, segala macam karya luar biasa berawal dari mimpi yang besar. Ketika pun mimpi itu terkesan terlampau besar, bukan berarti drajat mimpi itu yang dikurangi, tapi usaha lah yang harus ditambah.

Dua bulan bersama saling menopang membuat kami makin belajar betapa pentingnya mimpi. Mimpi yang membuat kami terhimpun, terfokus, dan terjaga. Nampaknya masih jauh mimpi kami dari kata tercapai, terwujudnya Keluarga Mahasiswa UGM sebagai inspirasi gerak Indonesia. Perlu usaha yang lebih keras, sistematis, strategis, dan kesolidan yang lebih mantap. Dan insha Allah apapun dan bagaimanapun kondisinya kami akan terus bersungguh-sungguh mengemban amanah kami, serta berusaha sekuat tenaga mewujudkan mimpi besar kami, Inspirasi Indonesia!

Mimpi bukanlah yang kau lihat dalam tidurmu, tapi sesuatu yang menjadikan kau tak banyak tidur lantaran terpacu untuk mewujudkan mimpimu (Mahatma Gandi). (AZ)