Monday, December 28, 2015

OPREC Kabinet Inspirasi Indonesia BEM KM UGM 2016

Standard
Selamat pagi kawan. Menjadi pejuang adalah pilihan. Tak ada paksaan bagi setiap orang yang ingin terus berbaring di kasur empuknya, menikmati cemilan sorenya, dan menghabiskan waktu dengan mainanya. Tapi, satu saja yang perlu kau tahu kawan, kemuliaan hakiki telah menunggumu dalam jalan juang. (AZ)

Halo Gadjah Mada!
Setiap kita tercipta istimewa, punya karya yang unik dan luar biasa. Tak perlu menjadikan semua sama, kolborasi bermacam karya akan jauh lebih bermakna. Siap berkolaborasi? Mari bersama berkarya, wujudkan mimpi kita bersama untuk menginspirasi Indonesia!

Ø  Syarat dan Ketentuan
·         Mahasiswa UGM program diploma/sarjana minimal angkatan 2013
·         Menulis motivation letter*
·         Menulis gagasan untuk BEM KM UGM dan Kementerian/Biro yang dipilih*
·         Mengisi forumilir pendaftaran
·         Mengirimkan curriculum vitae
·         Mengisi surat pernyataan komitmen
·         Indeks Prestasi Kumulatif > 2,75 dibuktikan dengan scan copy transkrip
·         Mengisi formulir pendaftaran dan surat pernyataan komitmen
·     Mengumpulkan semua berkas ke email mokhd.ali@gmail.com maksimal 31 Desember 2015 pukul 23.59 WIB
Ø  Timeline
·         Pendaftaran dan pengumpulan berkas         : 28-31 Desember 2015
·         Wawancara                                                   : 1-2 Januari 2016
·         Pengumuman                                                : 9 Januari 2016

Ø  Kementerian dan Biro
·         Biro Kesekretariatan
·         Biro Keuangan
·         Biro Pengembangan Sumber Daya Insani
·         Biro Penelitian dan Pengembangan
·         Biro Kewirausahaan
·         Biro Komunikasi dan Informasi
·         Kementerian Advokasi Kesejahteraan Mahasiswa
·         Kementerian Pengembangan Karya dan Potensi Mahasiswa
·         Kementerian Sinergisasi mahasiswa
·         Kementerian Kajian Strategis
·         Kementerian Kajian Lingkungan Hidup
·         Kementerian Jaringan Eksternal
·         Kementerian Aksi dan Propaganda
·         Kementerian Pengabdian Masyarakat
·         Kementerian Advokasi Kemasyarakatan
·         Kementerian Pengembangan Desa Mitra

*format penulisan : kertas A4, font Arial 12, spasi 1.5

Platform Kabinet Inspirasi Indonesia BEM KM UGM 2016:http://bit.ly/inspirasiindonesia.




Tuesday, October 6, 2015

Menjadi Kupu-kupu

Standard
Di musim semi itu ratusan telur tak terjaga menetas di antara rimbun dedaunan. Memulai fase nol kehidupan. Di sinilah semua bermula, nol!

Namun malang, tak sebagaimana umumnya kelahiran, kali ini munculah bayi-bayi yang tak dikehendaki, bahkan tertolak!. Bagaimana bisa?.

Mungkin memang pantas bayi-bayi itu tertolak. Karena memang penampakanya yang menggelikan. Bulu-bulunya yang membikin ngeri. Atau bahkan mampu membuat sekujur tubuh manusia bentol-bentol. Itulah si bayi, ulat yang menggelikan.

Begitulah ulat yang memang menggelikan, atau bahkan menjijikan. Jika bertemu tak ada pilihan, lindas hingga hancur!. Memang begitulah hidup ulat, sering ada hal-hal sadis dan menyakitkan. Tapi, bukan kah ini hidup yang harus terus dijalani?. Apapun dan bagaimana pun beratnya.

Fakta hidup yang kadang tak adil dan keras tak membuat ulat surut ke belakang. Ia tetap berusaha menghidupi dirinya.

Waktu berjalan, hari berlalu, terus dan terus ia membekali hidupnya dengan asupan-asupan daun yang membuatnya makin kuat, makin besar, makin tangguh. Malam berganti siang nampaknya ia tak pernah letih menutrisi dirinya, berproses menjadi lebih dan lebih.

Hingga ketika waktunya tiba, ia menahan, membatasi diri dari dunia, dan memilih untuk diam dalam kesendirian. Itulah pilihanya, menjadi seonggok yang rela tak menikmati dunia dalam sebagian hidupnya, membatasi dan menjaga diri.

Itulah kisah singkat dari ulat yang menggelikan. Bukankah kisah si ulat sedikit banyak mirip dengan kita sebagai manusia? Bagaimana bisa?

Sebagaimana ulat, kita pun sama, memulai semua dari nol. Saat lahir, tak ada sehelai kain pun melapisi tubuh kita, tak punya apapun, nol!

Ulat begitu menggelikan, apakah kita juga? Bulu-bulu yang menggelikan adalah mekanisme pertahanan diri yang bagi manusia lebih dilihat sebagai kekurangan. Bukankah sama dengan kita?. Kita yang punya banyak kekurangan, celah, dan hal-hal menggelikan sebagaimana ulat di mata manusia.

Namun ada satu yang bisa jadi membuat kita berbeda dengan ulat. Ulat, dimanapun mereka berada memilih untuk terus memberi asupan nutrisi bagi dirinya. Tak kenal lelah mereka menutrisi dirinya dengan apa yang mereka butuhkan, (ingat) apa yang mereka butuhkan!. Namun, tak semua manusia memilih hal yang sama dengan ulat. Menutrisi tiap aspek dalam diri yang memang membutuhkan. Ulat hanya punya raga, maka ia beri asupan pada raganya. Manusia punya jiwa, raga beserta komponen yang saya pribadi lebih suka menyebutnya potensi insani. Maka sudah sepantasnya manusia bersikap adil, menutrisi komponen yang tampak dan tak tampak pada dirinya.

Proses yang tak kenal lelah dibutuhkan sebagaimana ulat melakukanya. Menutrisi dengan makanan sehat dan olah raga. Menutrisi jiwa dengan dzikir. Menutrisi pikiran dengan belajar. Serta menutrisi diri seutuhnya dengan berbagai hal yang menjadikan potensi insani muncul dan terberdayakan, itulah yang disebut pengembangan diri.

Segala komponen dalam diri ini memang harus dikembangkan, Tak boleh fokus pada satu saja, tak boleh pula luput pada satu komponen. Memang luar biasa, ternyata kita bisa belajar dari hewan melata yang terlihat menggelikan.

Menjaga konsistensi pengembangan diri sebagaimana ulat yang konsisten menutrisi dirinya siang malam. Hingga akhirnya ada momentum loncatan kehidupan. Ketika suatu ketika pengembangan komponen jiwa dan raga mencapai klimaks. Sebagimana ulat yang memenuhi komponen raga dengan makan, Kita pun demikian!.

Hingga pada akhirnya konsisitensi dalam berproses akan mengantarkan kita menjadi pribadi yang mengagumkan. Pribadi yang barangkali tak pernah terbayang sebelumnya. Sebagaimana ulat yang berubah menjadi kupu-kupu. Terlihat mustahil, bagaimana bisa hewan melata pemakan daun berubah menjadi hewan bersayap pemakan nektar. Hewan yang begitu cantik, kupu-kupu. Siapkah kita demikian?. Bertransformasi menjadi sosok mengagumkan setelah berproses dalam rangkaian pengembangan diri yang konsisiten. (AZ)

Thursday, October 1, 2015

Quo Vadis Pendidikan Indonesia?

Standard
Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar ke empat di dunia. Data Badan Pusat Statistik (2014) menyebutkan, jumlah penduduk Indonesia sekitar dua ratus lima puluh juta jiwa. Tingginya jumlah penduduk Indonesia itu berimplikasi baik positif maupun negatif. Disatu sisi, tingginya jumlah penduduk merupakan potensi mewujudkan negara besar yang tangguh. Namun disisi lain, negara memiliki tugas yang sangat berat dalam upaya mengembangkan potensi sumber daya manusia yang ada.
Pengembangan potensi sumber daya manusia dilakukan melalui pendidikan. Negara berkewajiban menyelenggarakan pendidikan bagi seluruh rakyatnya. Namun penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan melalui lembaga pendidikan, baik sekolah maupun perguruan tinggi, secara nyata tidak berjalan mulus. 
Sean Coughlan dalam BBC Indonesia (2015) menulis, Indonesia menduduki peringkat 69 dari 76 negara untuk kategori sekolah global terbaik. Tidak hanya itu, buruknya kualitas pendididikan di Indonesia juga tergambar dari Indeks Pembangunan Manusia, peringkat dalam UNESCO Education For All Global Monitoring Report, dan Education Development Index. Pada 2013 Indonesia menempati posisi 121 dari 185 negara dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM), sementara berdasarkan UNESCO Education For All Global Monitoring Report (2012), Indonesia menempati peringkat ke-64 dari 120 negara diseluruh dunia. Sedangkan rilis Education Development Index (EDI) (2011), Indonesia menempati peringkat ke-69 dari 127 negara. Peringkat tersebut menunjukan besarnya masalah pendidikan Indonesia kini. Problematika paling fundamen pendidikan Indonesia memang adanya disorientasi tujuan secara nasional.
Bukankah termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, sejatinya pendidikan  adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa? Hal ini jelas menegasikan realita riil yang terjadi. Tafsir menyoal pendidikan lebih dimaknai tentang nilai atau skor setinggi-tingginya, dan tujuan akhir, pekerjaan dengan gaji yang banyak. Disorientasi pendidikan Indonesia berakar dari kekosongan narasi pendidikan. Sebagai permisalan, minimnya materi terkait budi pekerti atau akhlaq.
Jika kita amati, dari tahun ke tahun materi terkait budi pekerti (termasuk pendidikan agama) di lembaga pendidikan formal makin dipangkas. Banyak hal yang bisa menjelaskan mengapa fenomena ini terjadi. Bisa jadi dipandang tidak sepenting materi lain, atau nilai spiritualitas yang sengaja disembunyikan. Apapun sebabnya, harus dipahami bahwa budi pekerti adalah akar terbentuknya karakter yang luhur. Karakter yang luhur-lah hal yang harus mengakar, sebagaimana diajarkan didalam Islam. Bahkan dalam Hadits Shahih Riwayat Bukhari tegas menyatakan, ”Sesungguhnya aku (rasulullah) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”.

Wednesday, September 2, 2015

Jelajah Bumi, Mimpi yang Segera Terwujud

Standard
“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran” (Q.S. Al-Hijr: 19)

Bumi Allah begitu luas. Terhimpun dari benua, pulau, dan perairan. Terbagi menjadi sekitar 200 negara modern. Tempat tinggal bagi sekitar 7,2 miliar manusia ciptaan-Nya. Menyimpan kekayaan alam luar biasa. Serta saksi bisu bergulirnya sejarah manusia dari waktu ke waktu.

Begitu tua usia bumi, konon mencapai 4.54 miliar tahun. Namun di usia senjanya seolah tak ada lelah, ia tetap mempesona memancarkan cantiknya. Sebagaimana benda antik, makin tua bumi kita menjadi makin bernilai, menyimpan rahasia kehidupan.

Maka tak heran telah tertulis dalam catatan sejarah kisah-kisah penjelajah dunia. Mereka rela berpisah dengan sanak saudara untuk menelusuri bumi Allah. Bertahun-tahun mereka habiskan untuk menjelajahi segenap penjuru bumi. Mengorbankan harta, waktu, dan bahkan nyawa. Tapi itu lah harga mahal yang harus dibayar untuk bisa melihat keagungan Allah melalui ciptaan-Nya.

Kisah penjelajahan dunia memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang. Ada yang sedari awal berorientasi mencari materi, baik berupa tanah subur, rempah, berdagang, dan sejenisnya. Ada yang tergila-gila pada pesona bumi sehingga rela banyak berkorban untuk menjelajahinya. Atau dewasa ini, berkeliling dunia menjadi sarana hiburan yang mujarab melepas penat.

Di era trasportasi dan media yang begitu canggih saat ini perpindahan orang dari satu tempat ke tempat lain begitu mudah. Dalam hitungan jam atau bahkan menit seseorang sudah bisa berpindah dari benua satu ke benua lain. Tak heran berkeliling dunia menjadi sangat menarik untuk refreshing.

Bagi seorang Ridwan Kamil, sang Wali Kota kelas dunia. Berkeliling dunia adalah cara untuk mendapatkan referensi. Untuk kemudian referensi itu diterapkan di negeri kita dengan atau tanpa improvisasi. Maka bagi kita yang ingin melakukan banyak perubahan dan menjadi solution maker berkeliling dunia adalah wajib.

Berkisah tentang penjelajahan dunia bagi orang yang sama sekali belum pernah ke luar negeri macam saya terasa begitu sulit. Tapi terus terang, ini semacam pacuan untuk terus berjuang mewujudkan mimpi keliling dunia.

Saya ingin dan harus segera menjelajahi dunia. Apa pentingnya?. Bagi saya pergi ke luar negeri dan menjelajahi dunia bukanlah pilihan yang sifatnya opsional, tapi keharusan yang mutlak. Mengapa?. Saya sepakat dengan yang disampaikan pak Ridwan Kamil bahwa berkeliling dunia akan membuka cakrawala berpikir. Berkeliling dunia akan membuka kesempitan cara pandang kita dan membuat kita punya banyak referensi tentang perubahan yang kita dambakan bagi Indonesia tercinta.

Sekalipun sampai detik ini belum pernah ke luar negeri. Itu bukan tanpa usaha, sebelum ini saya sudah 3 kali berusaha ke luar negeri melalui beberapa program. Baik ke Jepang, Filipina, maupun China. Namun Allah punya rencana lain. Inshaa Allah di waktu yang akan datang Allah wujudkan itu. Saya percaya Allah selalu punya rencana luar biasa yang sulit diterka. Allah maha memberi yang terbaik. Tugas kita terus berusaha dengan segala daya, berdo’a dan menyerahkan seutuhnya hasil pada Dzat Yang Maha Berkehendak, Allah. (note: nyari yang 100% gratis susah, yuk mulai nabung buat ke luar negeri).

Sebagai penguat mimpi dan motivasi bergerak ke luar negeri yuk kita tengok kisah muslim inspiratif yang dikenang oleh sejarah dunia. Beliau lah Ibnu Batutah atau Abu Abdullah Muhammad bin Battutah. Sungguh luar biasa Ibnu Batutah ini yang mengelilingi dunia dan melintasi 44 negara modern. Hampir 120.000 kilometer telah ditempuhnya dalam rentang 1325-1354 M. 

Perjalanan menjelajah dunia Ibnu Batutah tertuang dalam buku “Rihlah” atau "Tuhfat al-Nuzzar fi Ghara’ib al-Amsar wa-’Aja’ib al-Asfar". Rihlah merupakan catatan perjalanan dunia terlengkap yang berasal dari abad ke-14. Sebagaimana dilansir dari Republika Online bahwa ''Kehebatan Ibnu Battuta hanya dapat dibandingkan dengan pelancong terkemuka Eropa, Marcopolo (1254 M -1324 M),'' ujar Sejarawan Brockelmann mengagumi ketangguhan sang pengembara Muslim itu. Selama hampir 30 tahun, dia telah mengunjungi tiga benua mulai dari Afrika Utara, Afrika Barat, Eropa Selatan, Eropa Timur, Timur Tengah, India, Asia engah, Asia Tenggara, dan Cina. Bahkan Sejarawan Barat, George Sarton, mencatat jarak perjalanan yang ditempuh Ibnu Battuta melebihi capaian Marco Polo (tiga kali lipat lebih jauh). Tak heran, bila Sarton geleng-geleng kepala dan mengagumi ketangguhan seorang Ibnu Battuta yang mampu mengarungi lauatan dan menjelajahi daratan sepanjang 73 ribu mil itu. Sebuah pencapaian yang tak ada duanya di masa itu.

Ibnu Battuta juga sempat menjelajahi bumi Nusantara. Beliau berlayar sepanjang Pantai Arakan dan kemudian Ibnu Battuta tiba di Aceh, Indonesia. tepatnya di Samudera Pasai. Di sana Ibnu Battuta tinggal selama 15 hari dan berjumpa dengan Sultan Mahmud Malik Zahir. 

Dalam catatan perjalananya, Ibnu Batutah sampai di pesisir Pasai setelah menempuh perjalanan laut selama 25 hari dari India. “Pulau itu hijau dan subur,” tulis Battuta sebagaimana dikutip Dream dari buku The Indonesia Reader, History, Culture, Politics, Selasa 18 November 2014.

Dia menulis tanaman yang banyak tumbuh di Pasai adalah pohon kelapa, pinang, cengkeh, gaharu India, pohon nangka, mangga, jambu, jeruk manis, dan tebu. Batutah juga menulis tumbuhan aromatik yang terkenal di penjuru dunia hanya tumbuh di daerah ini –dulu memang terdapat komoditas tumbuhan aromatik yang dihasilkan di daerah Barus.

Luar biasa bukan?. Demikianlah kutipan kisah penjelajah muslim yang melegenda, Ibnu Batutah. Tentu sangat luar biasa bisa mengelilingi dunia dengan keterbatasan sarana transportasi saat itu. Sungguh beruntung kita saat ini yang dimudahkan dengan berbagai sarana transportasi. Jadi sangat disayangkan jika tak ada mimpi sama sekali untuk ke luar negeri. Mari bermimpi, dan terus mengakumulasikan usaha hingga kelak kita akan tuliskan kisah penjelajahan dunia sebagaimana Ibnu Batutah, Inshaa Allah.

*Sumber:
http://www.republika.co.id/berita/shortlink/34670
https://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Batutah

Thursday, August 6, 2015

Berkah Ilmu dari Guru

Standard
Pernahkah kita lihat, ada pelajar yang terlihat biasa-biasa saja dalam belajar tapi selalu berhasil mendapat nilai fantastis?. Atau pelajar yang sudah mati-matian belajar tapi tetap saja nilainya jelek?. Mungkin juga kita pernah melihat pelajar yang sibuk kesana kemari dengan begitu padat aktivitasnya tapi tetap jadi juara kelas. Dan setelah lulus mungkin kita juga pernah tahu ada alumni dengan IPK 'premium' jauh lebih mudah mendapat pekerjaan yang layak dibanding yang ber IPK 'cumlaude'.

Kadang kita bingung kenapa bisa demikian?. Hingga kita pun sempat disajikan data-data yang menjelaskan bahwa IPK bukan satu-satunya penentu diterimanya seseorang dalam kerja. Cukup rasional. Tapi tetap saja ada perkara yang ganjil dan belum bisa terjawab mengenai fenomena pelajar diatas. Bagaimana mungkin itu terjadi?.

Waktu demi waktu berjalan dan tentunya banyak hal berubah di dalam sistem pendidikan kita. Dulu banyak guru dikenal 'angker', sekarang sebaliknya, hampir tak ada. Dulu dengan mudah guru memarahi atau bahkan menggunakan kekerasan pada muridnya, sekarang sebaliknya, bisa-bisa guru masuk bui jika berbuat demikian. Perbaikan cara guru mengajar di Indonesia memang harus diakui. Ketika guru memperbaiki etika mengajarnya pada murid, apakah demikian pula cara murid memperlakukan guru?. 

Faktanya kini kita menemukan begitu banyak murid mencaci, menghina, dan mengolok-olok gurunya tanpa sungkan. Jika guru keliru si murid tak selalu berusaha menjalin komunikasi baik pada gurunya, namun malah menghujat dibelakang. Ini bukan rahasia lagi, semua sudah tahu. Bahkan ada julukan-julukan aneh yang diberikan murid pada gurunya. Misalkan guru yang cerewet diberi julukan 'si comel'. Demikian juga guru lain yang pastinya punya kekurangan. Terutama guru yang agak pelit nilai pasti akan jadi sasaran empuk gosipan para siswa.

Sebenarnya jika kita renungi secara mendalam, nampaknya ada etika murid yang menurun. Dulu yang saya tahu dari para orang tua, guru menjadi orang yang sangat disegani. Boro-boro dicaci, guru selalu jadi sosok yang dihargai. Seolah banyak yang lupa bahwa dalam belajar kita mengharapkan keberkahan dari ilmu. Dan syarat keberkahan itu salah satunya adalah dengan memenuhi adab menuntut ilmu, khususnya adab kepada guru.

There is invisible hand

Dalam buku 'Taziyatun Nafs' karya Sa'id Hawwa salah satu adab yang harus dikedepankan oleh pencari ilmu adalah larangan sombong kepada orang yang berilmu dan durhaka pada guru. Guru diposisikan sebagai orang yang berilmu dan sosok yang patut dihargai. Sikap tak beradab pada guru baik dalam bentuk mencaci, menggunjing berlebihan, dan lainya dikhawatirkan merupakan buah dari kesombongan dalam hati. Jika hati seseorang sombong maka susah ilmu masuk padanya. Sebagaimana teko yang akan dituangkan isinya ke gelas, jika posisi gelas lebih tinggi daripada teko maka air tak akan masuk ke gelas. Demikian pula ilmu, jika seseorang memposisikan dirinya lebih mulia (sombong) daripada gurunya maka ilmu akan susah masuk. Kira-kira demikian.

Maka bagi seorang pelajar menjadi sangat penting untuk mempelajari dan berusaha menerapkan adab menuntut ilmu, terutama bagaimana memuliakan guru sebagai orang yang mengajari kita ilmu. Jika adab menuntut ilmu diterapkan dengan baik in shaa Allah akan ada kemudahan dalam belajar, We must be remember about the invisible hand. Allah yang berkehendak memuliakan siapapun dengan ilmu. Dengan demikian keberkahan pun in shaa Allah lebih dekat. Bukankah keberkahan itu yang kita inginkan?. Karena keberkahan lah yang menjadikan hidup tentram dan bahagia. Inilah saatnya kita kembali menengok bagaimana diri kita dan bersiap memperbaikinya.

Tuesday, August 4, 2015

Mulailah Berbagi

Standard
Jika kau punya emas setumpukan gunung merbabu, sudikah kau bagikan separuhnya?.
Jika kau punya uang sepenuh ruang tamumu, sudikah kau bagikan sepertiganya?.
Jika kau yang punya seluruh padi-padian disegenap penjuru negeri, sudikah kau bagikan seperempatnya?.
Manusia memang kikir. Bertambanhnya harta tak selalu setara dengan bertambahnya aksi berbagi. Bertambahnya nikmat duniawi tak selalu menjadi pikir untuk siapa lagi nikmat ini perlu dibagi. Sampai kapankah itu terjadi?.

Barangkali sampai ujian kemiskinan atau kesengsaraan datang melanda. Disana manusia baru sadar betapa nikmatnya, betapa indahnya, dan betapa luar biasanya yang ia miliki, Hingga sesal yang tersisa, kenapa belum sempat berbagi?.

Maka, sebaik-baik hak milik adalah yang dibagikan. Sekecil apapun, seminim apapun, sesederhana apapun. Demikianlah aagar hak milik menjadi berkah dengan berbagi.

Jika kita merasa tak punya harta, bisalah kita bagikan ilmu yang utama. Jika tak punya keduanya, bagikan tenaga juga bisa. Atau ketika kita merasa tak punya apapun untuk dibagi, maka tersenyumlah karena dengan senyum kita telah berbagi bahagia.

Mari bersama berbagai, sekecil apapun, mulailah!

Saling Berlomba

Standard
Ketika kita ingin lebih baik daripada yang lain, apakah wajar?.
Ketika kita ingin lebih mulia daripada yang lain, apakah wajar?.
Dan ketika kita ingin menjadi pemenang diantara yang kalah, apakah wajar?.

Menjadi wajar karena sejatinya manusia hidup dengan naluri kompetisi. Mereka ditakdirkan untuk berlomba menunjukan mana yang lebih baik. Manusia selalu dan secara berlanjut mempertahankan eksistensi mereka dengan berlomba.

Hingga pada suatu waktu semua sadar bahwa menang dan kalah adalah kewajaran. Kadang kita kalah, kadang juga menang. Kadang kita bahagia karena menang, kadang kita menangis karena kalah. Keduanya silih berganti dipergilirkan.

Dalam lingkup terkecilpun kita berlomba. Sebagaimana berlombanya diri yang berusaha menang atas nafsu. Sebagaimana semangat bekerja yang berusaha menang atas lelah. Kita terus berlomba di setiap detiknya untuk jadi pemenang.

Sampai pada suatu kertika kemenangan hakiki itu tiba. Disanalah piala kemenangan sesungguhnya kita terima. Hasil dari kemenangan yang jumlahnya lebih banyak dari kekalahan. Kemenangan akumulatif yang diperjuangkan dengan cucuran kringat, darah, dan air mata.

Maka berkejar-kejaran menuju kemenangan menjadi utama. Dimana kemuliaan itu didapat. Dimana cinta itu diraih. Dan dimana kelegaan telah bermetamorfosa menjadi kenikmatan yang mengalir disekujur tubuh karena jiwa ini telah berlomba, terkoyak, penuh luka perjuangan.