Monday, March 28, 2016

Memaknai Inspirasi

Standard
Akhir-akhir ini kata “inspirasi” santer digunakan sebagai brand. Dari mulai media, produk, hingga nama kabinet di organisasi yang saya pimpin pun menyertakan kata “inspirasi”. Nampaknya kata “inspirasi” telah menjelma menjadi tren masyarakat Indonesia saat ini.

Apa pasal? Mari kita tilik dari arti kata “inspirasi” itu sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam KBBI kata “inspirasi” bermakna “ilham”. Dengan kata lain, bentuk aktif kata “inspirasi” tersebut memiliki makna “mengilhami”. Atau sebuah cita-cita bahwa pihak lain akan turut tergerak berbuat kebaikan bersama sang inspirator.

Lantas jika demikian mestinya pihak yang membawa cita-cita “inspirasi” bisa benar-benar siap secara personal/kelembagaan sebelum pada akhirnya meginspirasi. Apakah ini bentuk kejumawaan? Atau egosentrisme? Bukan! Justru kata “inspirasi” tersebut akan berperan sebagai pecut yang memacu personal/lembaga untuk terus memperbaiki diri hingga bisa matang secara internal pribadi. Bukan kah sudah sewajarnya cita-cita itu tinggi? Serta mampu memacu untuk terus bergerak melakukan perbaikan? Jika cita-cita tak tinggi, pantaskah disebut cita-cita?

Singkatnya, inspirasi sebagai kata yang melekat sebagai cita-cita sangat relevan digunakan untuk memacu gerak personal/lembaga yang lebih progresif. Sementara dampak tercapai atau tidaknya cita-cita inspirasi tersebut bisa dibilang memang abstrak, sekalipun jelas bahwa masih ada banyak orang yang butuh “ilham” atau “inspirasi” untuk memulai kebaikan. Tak perlu ragu, satu yang mesti kita tahu bahwa setiap kebaikan yang kita perbuat memiliki nilai inspirasi, sekecil apapun. (AZ)

Wednesday, March 23, 2016

Proses yang Mengasyikan

Standard
Halo kawan, apa kabar hari ini? Lama ya saya ga menyapa kawan-kawan melalui blog ini. Semoga kawan semua dalam keadaan sehat dan semangat selau buat menebar manfaat. Aamiin. :)

Entah perasaan saya aja, atau emang bener kalo waktu terasa begitu cepat berjalan. Dan alhamdulillah hingga detik ini Allah SWT masih memberikan kita kesempatan untuk memperbanyak berbuat baik dan berusaha memperoleh ampunan-Nya. Maka, sudah sepantasnya kita bersyukur dengan cara lebih semangat menebar kebaikan di muka bumi. Siap? Oke kalo siap yuk kita mulai dengan mengukir kebaikan-kebaikan baru.

Kayaknya udah lama banget nih saya ga nulis tulisan macam ini via blog (re: tulisan curhat). Entah deh karena apa, tapi sepertinya ini satu kebaikan yang mesti dilanjutkan. Why? Karena tentu ini akan jadi rekam jejak buat saya, sehingga di waktu yang akan datang mungkin saya perlu baca tulisan-tulisan saya lagi untuk menambah semangat dan mensyukuri apa-apa yang telah saya alami selama hidup. Dan tentu saya pun berharap tulisan coret-coret macam ini pun bisa bermanfaat buat kawan-kawan.


Hari ini saya benar-benar bersyukur, ga kerasa hari ini sudah menginjak hari ke 82 saya mengemban amanah sebagai pelayan di Keluarga Mahasiswa (KM) UGM. Terutama hal yang paling harus saya syukuri adalah kesempatan buat banyak belajar dan menebar kebaikan. Saya banyak belajar dari orang-orang yang saya temui dalam 82 hari ini dan makin sadar banyak yang belum saya tahu hingga harus lebih semangat lagi belajar. Diskusi, melihat perspketif banyak orang, atau sekedar jadi pendengar dan pengamat yang baik dari masing-masing orang yang punya karakter unik. Ga pernah kebayang sebelumnya punya kesempatan seluas ini  buat ketemu banyak orang keren dan inspiratif.

Bahkan saya juga banyak belajar dari adik-adik angkatan saya, belajar memang bisa pada siapapun tak memandang lebih tua atau muda. Yang paling menyenangkan lagi adalah kesempatan buat menuangkan ide dan gagasan gila tentang kebaikan. Demikian karena BEM KM UGM ini organisasi yang berisi banyak orang dan punya kuota yang cukup besar buat menampung ide dan gagasan gila saya ini. Lewat 10 kementerian, 6 biro, 3 kemenkoan, dan 1 sekjend ada banyak sekali ide saya maupun ide bersama yang bisa kami wujudkan. Dengan begitu kebaikan, kemanfaatan, dan inspirasi menjadi sangat menyenangkan untuk diwujudkan. Dan yang jelas kami dan tentu saya pribadi  tak akan menyayangkan kesempatan emas ini, kapan lagi kita bisa punya ide-ide gila yang bisa berdampak baik buat banyak orang? It’s show time.

Tentu ada juga tantangan dan rintangan dalam perjuangan. Dan saya benar benar belajar tentang makna sabar dan ketenangan. Bahwa memang betul apa yang disampaikan Rasulullah SAW bahwa orang yang paling kuat bukan orang yang menang adu gulat, tapi yang paling kuat adalah mereka yang sabar. Dan perkara sabar ini bukan satu hal yang mudah. Lewat berbagai hal yang saya dapati dalam 82 hari ini membuat saya belajar apa arti penting sabar, yah sekalipun saya juga belum bisa mengatakan saya orang yang sabar, tapi saya belajar banyak untuk sabar. Dan yang kedua tentang ketenangan, banyak sih yang bilang saya itu kalem, diam, tenang. Awalnya saya ga terlalu peduli dengan itu. Tapi 82 hari ini saya juga belajar banget dan menyadari betapa pentingnya karakter “tenang” ini terpatri dalam diri saya. It’s a power of me.

Dan saya juga ingin curhat sisi kemanusiaan yang sedang saya alami sampai detik ini atau lebih tepatnya selama 82 hari mengemban amanah ini. Entah karena saya terlalu asyik berkutat dengan amanah ini atau bagiamana, saya agak sedih dengan skripsi saya yang belum move on sampe detik ini, stay cool di bab 2. Atau proritas hafalan Al-Qur’an, hadits, perbaikan bahasa Inggris dan lainya yang masih saja menjadi wacana hingga saat ini. Tapi insha Allah man jadda wa jadda! Semoga dengan memperbaiki niat, memperkuat dan mengoptimalkan usaha segala targetan semester ini maupun setahun kedepan bisa saya capai. Aamiin. Mohon do’anya kawan J

Dan saya juga ingin menyampaika rasa terimakasih dan kesyukuran yang mendalam atas team work yang luar biasa buat pengurus harian dan segenap keluarga inspirasi indonesia BEM KM UGM 2016, you are super! Mari bersiap dan terus berbenah untuk menebar kebaikan dan menginspirasi!

Mungkin itu aja dulu ya sementara curhatan saya, hehe. Tapi inget ya kawan-kawan ini bukan acara Mamah dan Aa’ curhat dong! Ini sebatas curhatan orang yang ingin selalu belajar, ingin jadi orang baik dan lebih baik. Salam hangat dari saya, Ali. (AZ) 

Monday, March 21, 2016

Harapan untuk Hutan

Standard
21 Maret merupakan tanggal dimana seluruh dunia memperingati betapa pentingnya hutan, yah hari ini adalah hari kehutanan sedunia. Hutan sebagaimana kita tahu adalah tumpuan manusia untuk bertahan hidup. Oksigen sebagai produk hutan di seluruh dunia sangat vital keberadaanya. Begituah, hutan tak sebatas produsen kayu untuk industri, bahan bangunan, atau kertas-kertas untuk kegiatan perkantoran, tapi hutan adalah kehidupan.

Indonesia sebagai pemilik salah satu hutan hujan tropis terbesar di dunia tentu memegang peran penting dalam menyangga kebutuhan dunia akan hutan beserta oksigennya. Namun, berbanding lurus dengan hal itu, Indonesia juga termasuk pemasok terbesar emisi karbon dunia, akibat kebakaran hutan. Inilah ironi yang terjadi, Indonesia sebagai salah satu produsen oksigen dan karbon terbesar di dunia karena hutannya secara bersamaan.

Di tahun ini kebakaran hutan di Indonesia memasuki usianya yang ke 18. Bertepatan dengan hari kehutanan sedunia menjadi sangat pas untuk merenung dan membuat harapan bagi hutan di Indonesia berkaitan dengan kebakaran yang dialaminya, make a wish.

Tanpa melihat siapa dan apa latar belakang kita, selama kita satu bangsa, Indonesia, saya pikir semua bersepakat untuk membuat harapan di momentum ini dan berdo’a pada Tuhan untuk kebaikan hutan Indonesia. Tapi ada yang berbeda, jika pada umumnya ulang tahun diwarnai dengan do’a “semoga panjang umur”, kali ini kita berdo’a semoga “pendek umur dan segera berakhir” untuk kebakaran hutan Indonesia.

Kita melaknat dan mengutuki mereka (masyarakat dan perusahaan) yang dengan unsur “sengaja” membakar hutan-hutan di Indonesia. Dan parahnya tak ada hukuman tegas untuk mereka. Pemeritah sama sekali tak tegas atas tindakan mereka. Selengkapnya mengenai permasalahan hutan Indonesia dapat diakses di http://bit.ly/RilisAksi dan http://bit.ly/SikapHutan .

Entah berapa ribu lagi korban akibat kebakaran hutan ini, entah berapa juta lagi ekosistem dan spesies terkorbankan, entah berapa triliun lagi rupiah terkorbankan, dan entah sampai kapan lagi pemerintah akan terus berdiam diri melihat pengrusakan ini.

Tapi, tak layak bagi manusia ber-Tuhan untuk hilang harapan, let’s make a wish untuk hutan Indonesia! (AZ)

Tuesday, March 15, 2016

Anak Kita, dalam Bingkai Pertumbuhan dan Perkembangan

Standard
Apa sih perbedaan pertumbuhan dan perkembangan?

Arief (2009) mendefinisikan  pertumbuhan sebagai perubahan dalam besar, jumlah, ukuran, atau dimensi, tingkat sel organ maupun individu. Dengan demikian dapat diartikan bahwa pertumbuhan adalah komponen kuantitatif yang secara dinamis berubah pada diri, dalam hal ini manusia. Masih dalam reference yang sama, perkembangkan diartikan sebagai bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan.

Dari pengertian diatas kita dapat memahami bahwa pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua komponen yang beriringan melaju secara dinamis dalam setiap satuan waktu kehidupan manusia, khususnya anak kita. Perbedaanya lebih pada sifat kuantitatif dan kualitatifnya. Jika pertumbuhan dapat dipantau melalui alat ukur yang dapat divalidasi secara periodik, tidak demikian pada perkembangan. Perkembangan tak dapat dituliskan dalam angka-angka, namun dapat dijabarkan melalui deskripsi tertulis.

Anak kita terus bertumbuh dan berkembang

Seiring waktu yang bergulir, anak kita pun terus tumbuh dan berkembang. Periode tumbuh kembang anak terbagi menjadi lima menurut Kartini Kartono (1979), yaitu periode bayi, kanak-kanak, anak-anak, remaja, dan masa pubertas awal. Semuanya itu memiliki indikator masing-masing untuk kemudian dapat mengkatagorikan seorang anak mengalami tumbuh kembang baik atau tidak. Disisi lain pertumbuhan dan perkembangan yang baik ditentukan oleh berbagai faktor. Faktor tersebut yang kemudian menjadi bingkai bagaimana wujud tumbuh kembang anak kita.

Faktor tersebut antara lain psikologis, kestabilan kondisi politik (dan sosial), gizi, kesehatan, keturunan, serta aspek lingkungan hidup lainya (Bogin, 1997). Sebagaimana kita tahu bahwa tinjauan psikologis pada seseorang meliputi aspek kejiwaan dan tingkah laku terkait lingkungan. Dengan demikian faktor psikologis memegang peranan penting kaitanya denga tumbuh kembang anak. Bagiamana anak belajar, makan, bermain, dan semua aktifitasnya yang pada akhirnya sangat berpengaruh terhadap capaian tumbuh kembang anak.

Kestabilan politik suatu negara juga memiliki andil dalam mewujudkan masyarakat yang  anak-anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik. Ketidakstabilan politik dan sosial berkaitan erat dengan ancaman peperangan, krisis ekonomi, krisis pangan, hingga buruknya akses terhadap pendidikan. Strong goverment and strong nation menjadi sangat penting untuk menciptakan kestabilan politik agar anak bangsa dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Faktor gizi memainkan peranan yang sangat penting sejak janin masih dalam kendungan Ibu. Bagimana Ibu yang tercukupi gizinya akan berpengaruh pada proses pertumbuhan janin yang baik. Kemudian ketika bayi lahir, seorang bayi diberikan air susu ibu (ASI) secara esklusif enam bulan pertama dan diberi makanan tambahan pendamping ASI hingga dua tahun. Pemberian ASI tersebut akan sangat bergantung  pada makanan apa saja yang dicerna ibu. Karena semakin bergizi makanan, maka produksi ASI makin bagus pula. Berlanjut ke tahap selanjutnya. Bagaimana seorang anak sangat membutuhkan sumber protein tinggi untuk memcu tumbuh kembangnya. Hingga pada akhirnya menjadi dewasa dan lansia, pun seseorang akan selalu bergantung pada faktor gizi. Penuaan, morbiditas (kesakitan), dan mortalitas (kematian) semua itu berkaitan erat dengan terpenuhinya kebutuhan gizi seseorang secara baik.

Monday, February 29, 2016

Memupuk Kuriositas

Standard
All people have brain, but only few use their mind

Perbedaan mendasar manusia dibanding makluk lain ada pada otaknya. Jika makhluk lain memiliki otak hanya sebagai pusat koordinasi tubuh, otak manusia tak demikian. Otak manusia dirancang untuk mampu menganalisis dan membuat penyelesaian masalah. Intinya perbedaan mendasar itu terletak pada penggunaan otak untuk berpikir atau tidak.

Sebagai makhluk yang berpikir tentu manusia mestilah mampu memproduksi sintesis dari pemikiranya tersebut. Sintesis itu hadir sebagai intisari dari berbagai tesis dan antitesis yang ditemui. Semakin luas pengetahuan seseorang maka semakin berkualitas sintesis yang dihasilkan. Satu yang perlu juga diketahui bahwa sintesis lahir sebagai jawaban atas berbagai persoalan yang muncul.

Memulai dengan kuriositas
Kuriositas atau keingintahuan menjadi pondasi untuk berpikir. Tanpa rasa ingin tahu yang tinggi seseorang hanya akan terkungkung pada doktrin atau pandangan sempit tentang sesuatu. Kuriositas yang rendah lah yang menjadikan seseorang malas membaca, diskusi, berpikir, mengkritisi dan cenderung pasif. Maka membangun budaya berpikir perlu dilakukan dengan meningkatkan kuriositas. Selalu ingin tahu tentang apa, mengapa, bagaimana dan seterusnya.

Baca, baca, baca menjadi awal yang sangat penting untuk memupuk kuriositas. Walaupun berat, ngantuk, dan cenderung tak mengenakan tapi inilah langkah yang harus diambil bagi siapapun yang ingin berkembang. Dengan mengalokasikan waktu yang lebih untuk membaca secara kritis maka perlahan kuriositas diri akan terbentuk.

Memupuk semangat baca sebagai awal pembentukan budaya berpikir telah lama dilakukan oleh pendahulu kita dalam catatan sejarah manusia. Uniknya mereka selalu menyimpan sisi manusiawi dalam berproses, persis seperti kita. Jika kita merasa ngantuk, mereka juga, luar biasanya mereka memilih teguh berjuang melawan kantuk untuk terus membaca dan berpikir. Kita? Semoga demikian pula. (AZ)

Tuesday, February 16, 2016

Menjiwai Peran Perlawanan

Standard
Soal Peran
Pada hakikatnya manusia memang sama. Hanya Tuhan yang pantas menilai mana yang lebih mulia. Namun, tetap saja di dunia ini setiap manusia berbeda, setidaknya dalam peran. Tiap dari kita mengambil peran yang berbeda dan spesifik. Seorang bupati belum tentu lebih mulia daripada tukang becak, tapi tetap saja peran lah yang membedakan keduanya. Peran lah yang menuntut si A wajib berbuat begini, sedangkan si B tidak wajib, dan sebaliknya.

Peran Spesifik Kita
Sejatinya setiap manusia dilahirkan dengan takdir berbeda, walaupun esensinya sama, hidup ini adalah ujian. Kemudian dalam hidup ini kita memilih dan memutuskan akan menjalankan peran seperti apa, tentu masih dalam koridor yang digariskan Tuhan. Dengan demikian kita mengambil peran yang spesifik satu sama lain. Yang menuntut kita berbuat begini begitu, punya keahlian ini itu, dan selalu bertanggungjawab atas peran spesifik masing-masing.

Memaknai Peran Perlawanan
Perlawanan adalah kata lain dari kecintaan. Justru karena kita cinta, maka kita melawan, karena cinta adalah perlawanan. Sementara perlawanan tanpa kecintaan adalah kemunafikan dan kebohongan, karena sejatinya perlawanan dimulai dari nurani terdalam. Selama nurani masih sehat sudah barang pasti setiap orang merasa resah dengan segudang masalah di bumi. Yang jelas, sumber dari semua masalah adalah manusia itu sendiri, lebih tepatnya mereka yang dzolim dan tamak. Padahal manusia diciptakan Tuhan sebagai pemeilhara bumi. Maka tak sepantasnya merusak apa yang harusnya dijaga.

Peran perlawanan adalah peran yang diambil oleh mereka yang mecintai dan ingin apa yang dicintainya berubah lebih baik. Bahkan sekalipun dia yang dicinta sudah bebal dengan kedzoliman, peran perlawanan akan tetap berjalan. Ibarat besi yang bengkok, untuk meluruskanya lagi akan sulit. Butuh dipukul berkali-kali, pasti sakit seandainya besi bisa merasakan, belum lagi harus dihujani api agar lebih lunak, terkesan jahat dan keras, tapi begitulah, bisa jadi satu-satunya cara untuk menghentikan kerusakan adalah dengan memukul keras-keras dan membakar panas-panas.

Menjiwai Peran Perlawanan
“right man in the right place”, satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa seseorang tepat atau tidak menempati peran tertentu adalah dengan melihat hasil kerjanya. Seberapa banyak, seberapa besar, seberapa gigih kah kerja berlangsung hingga tercipta perbaikan nyata. Tentu ini tak mudah, sering diawali jet lag karena belum mampu menyesuaikan dengan peran baru. Tapi, justru inilah tantanganya. Bagaiamana cara dan secepat apa kita bisa segera menyesuaikan diri dalam menjalani peran baru.

Hingga akhirnya dalam menjalankan peran kita harus paham bahwa ada soul atau jiwa yang harus menyertai. Mungkin orang lebih sering menyebut passion. Menjiwai apa peran yang sedang kita jalankan berati berusaha mencintai apa yang dilakukan. Mereka yang demikian adalah orang yang tidak terjebak dalam cinta buta, menjalankan hanya yang dicintai tanpa mencoba mencintai apa yang dilakukan.

Menjiwai peran perlawanan menjadi sangat abstrak untuk dilakukan jika tanpa teman seperjuangan. Namun  justru itu tantanganya, bisa jadi peran perlawanan dimulai dari seorang saja. Kemudian menjalar dan berkembang memunculkan perlawanan lain. Sebuah perlawanan yang mengehegemoni, yang nantinya akan menciptakan perubahan besar, dimulai dari satu orang. Lalu siapakah orang itu? aku? kamu? atau orang lain? Biarlah waktu yang menjawab. Yang jelas peran perlawanan harus dimulai dengan menjiwai, dimulai dari hati, dilantangkan dengan lisan, dan dikokohkan dengan perbuatan. Menjiwai peran perlawanan adalah janji seorang intelektual. Mereka yang hati dan pikiranya masih terkoneksi dengan baik sehingga sadar bahwa ada banyak masalah yang harus diselesaikan dengan perlawanan. Siap melawan? (AZ)

Monday, February 15, 2016

Mengembalikan Kejayaan Peradaban Islam Dunia

Standard
Membaca judul tulisan ini mungkin pembaca langsung bertanya, apakah saat ini Islam sedang tidak berjaya. Ya, menurut saya demikian. Sejak runtuhnya kesultanan ottoman 1924 silam peradaban Islam tersungkur dan menjadi tak dominan lagi di bumi, tak seperti sebelumnya. Bahkan ini diperparah dengan perpecahan di dalam umat Islam itu sendiri. Sehingga barang tentu dalam hampir seratus tahun ini menjadi sulit untuk membangkitkan kembali peradaban Islam.

Memaknai agama
Agama adalah way of life. Keyakinan yang memberikan petunjuk bagi mereka yang meyakini tentang apa dan bagaimana seharusnya kehidupan ini berjalan. Dengan demikian agama memiliki prinsip yang harus dijalankan pengikutnya, serta aturan-aturan detail tentang ajaranya.
Tak heran sejarah menuturkan ada banyak pergolakan ataupun peperangan yang timbul karena agama. Namun demikian tak berarti agama adalah sumber masalah dan peperangan. Justru insight yang mesti kita dapatkan adalah agama sebagai power sources yang memunculkan kekuatan besar. Dan kekuatan besar itu lah yang memunculkan peradaban-peradaban besar, yang hampir mustahil terwujud tanpa adanya agama. Dalam kata lain tanpa agama barangkali manusia akan bertahan sebagai makhluk primitif.

Tentang Agama Islam
Islam adalah agama yang lahir sekitar empat belas abad yang lalu. Termasuk agama yang muda jika dikomparasikan dengan nasrani, yahudi, maupun hindu. Namun demikian, bukan berarti Islam masuk katagori agama dadakan yang keberadaanya spontan tanpa jejak sejarah. Pada dasarnya keberadaan Islam yang diperantarai oleh seorang mulia bernama Muhammad sudah tercatat dalam berbagai kitab nasrani maupun yahudi. Demikian pula dalam kitab sucinya, Al-Qur’an menerankan tentang agama, nabi, dan periodisasi keberadaan agama Tuhan yang memang ditakdirkan berangsur-angsur. Tentu ini menjadi bukti yang kuat bahwa Islam memiliki akar sejarah peradaban manusia yang kuat dari zaman Adam hingga Muhammad.

Islam sebagai agama telah menyedot perhatian dengan menjadi salah satu kekuatan terbesar dunia hingga kini. Hal tersebut bukanlah hal praktis yang hadir begitu saja. Namun lebih berkaitan dengan substansi ajaran yang dikandung. Bahwa Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan penganutnya. Tak hanya itu, konsep pembinaan dalam Islam yang mengajarkan setiap individu untuk terus berproses sebagai wujud ibadah pada Allah membuat para penganutnya berkualitas unggul dan terus berkembang dibanding umat lain.

Singkatnya peradaban Islam yang mendominasi dunia ribuan tahun lamanya dibangun atas dasar value yang bersumber dari ajaran Agama itu sendiri. Dimana value tersebut menjadi insight bagi penganutnya untuk berperilaku terpuji dan beretos kerja tinggi. Dengan demikian lahirlah pribadi hebat yang tercatat dala tinta emas sejarah manusia.

Kumpulan individu berkumpul, maka terbentuklah masyarakat. Dimana kita tahu bahwa salah satu komponen penting negara adalah masyarakat. Kumpulan pribadi hebat dan berbudi luhur akan membentuk masyarakat berperadaban tinggi dan unggul. Sebaliknya, kebobrokan individu yang terkumpul dan mendominasi akan menghasilkan masyarakat yang bobrok. Begitulah Islam memandang, sehingga untuk mewujudkan peradaban yang unggul dimulai dengan masyarakat yang unggul dan dalam lingkup lebih kecil lagi sangat ditentukan oleh individu-individu dalam masyarakat tersebut.

Membangun kembali peradaban Islam setelah runtuhnya pada awal abad 19 silam tentu tidak mudah. Akan butuh banyak tenaga, pengorbanan dan penantian yang panjang. Namun demikian telah kita sadari bersama untuk mengembalikan peradaban Islam harus dimulai dari individunya. Ringkasnya, tak ada peradaban besar tanpa ada pribadi-pribadi besar. Dan kebesaran jiwa, karakter, serta tekat dapat diperoleh seorang muslim dengan mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh. Siapkah kita mengembalikan kejayaan peradaban Islam? (AZ)