Monday, February 20, 2017

Memaknai Kesuksesan

Standard
Ketika sukses telah ansich berarti kekayaan, jabatan, serta segala macam keglamoran dunia. Ketika banyak orang telah menggadaikan idealismenya untuk itu semua. Ketika yang tersisa hanya hegemoni ditengah sengsara. Lalu, masih kah saja kau tuli dan buta?

Tak semua orang sedangkal itu memaknai sukses, tapi, tak juga sedikit yang terperangkap. Kesalahan memaknai sukses telah membuat dunia rusak, menuju hancurnya. Kegagalan memaknai sukses telah banyak membuat menusia berjiwa srigala yang tega memangsa manusia-manusia lain laksana domba. Kebodohan memaknai sukses pula lah yang telah membuat sebagian orang sesat dan tersungkur dalam kubangan lumpur.

Lalu, apa makna sukses sebenarnya?

Bagiku sukses adalah tentang ridha Allah. Bagimana rangkaian detik ke menit, menit ke jam, jam ke hari, hingga tahun berganti tahun semua adalah amalan mulia untuk menggapai ridha-Nya. Tugas kita adalah secara telaten dan sabar memastikan bahwa setiap satuan waktu dalam hidup kita merupakan ibadah. Hingga pada akhirnya kita hanya akan tahu kesuksesan hakiki di hari akhir kelak.

Jadi, kini menjadi jelas. Setiap langkah adalah ibadah yang diliputi ketekunan. Belajarmu, dakwahmu, tulisanmu, ucapanmu, dan segala tindak tandukmu adalah rangkaian kesuksesan hakiki.

Sunday, February 19, 2017

Dunia itu fana, sedangkan akhirat kekal selamanya.

Standard
Layaknya lirik lagu karya Nicky Astria bahwa dunia ini panggung sandiwara. Setiap orang mengambil perannya masing-masing. Ada yang memilih menjadi orang baik, ada pula yang memilih sebaliknya. Tentu ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Layaknya panggung sandiwara yang bakal berakhir, dunia inipun sama, ada ujungnya. Lalu, setelah itu kita masuk ke dalam kehidupan yang sebenar-benarnya. 

"Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah ibarat hiburan dan permainan, dan sesungguhnya negeri akhirat itu ialah kehidupan yang sebenar-benarnya, sekiranya mereka mengetahui". (Al-Ankabut: 64)

Setiap orang bebas memilih akan berbuat seperti apa di dunia ini. Yang perlu diingat, semua akan mati dan segala yang diperbuat akan dipertanggungjawabkan.Itulah mengapa tak ada paksaan dalam berislam, karena pada akhirnya semua implikasi menjadi tanggungjawab masing-masing. Yang beramal soleh akan mendapat balasan kebaikan berkali lipat, demikian pula sebaliknya, yang berbuat durhaka pada Allah akan dibalas dengan siksa neraka yang menyala-nyala.

"Jibril mendatangiku lalu berkata: Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati, cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah denganya dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya...". (H.R. Ath-Thabarani)

"Panas api yang kamu nyalakan di dunia ini (termasuk matahari) hanyalah sepertujuh puluh dari panasnya api neraka di akhirat. Kalau sebagian kecil (api neraka) jatuh ke dunia, niscaya mendidihlah air laut karena panasnya". (H.R Muslim)  "

Hidup di zaman ini memang sulit, sebagaimana hadits rasululloh saw.

"Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api." (H.R Tirmidzi no. 2260)

Nyata adanya bahwa ketika kita berpegang teguh pada tali agama Allah, itu bukan perkara yang mudah. Kondisi lingkungan berikut berbagai godaan, nyinyiran yang kerap pula disertai cacian, hingga faktor internal diri yang kerap menjadi ujian. Semua itu adalah proses yang mesti dilalui seorang muslim dengan sabar.

"Kamu sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang ddemikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan". (Ali Imran: 186)

Terakhir, menjadi sangat jelas bahwa hidup ini adalah pilihan. Jalan mana yang kita pilih, maka jalan itu yang akan mengantar kita ke surga atau neraka. Wallohua'lam

Ilmu yang Bermanfaat

Standard
"Barang siapa yang seharusnya mempelajari ilmu karena Allah, namun dia mempelajari hanya untuk memperoleh harta duniawi, maka dia tidak akan mendapati aroma surga" (H.R. Abu Daud)

Bagaimana perasaan Anda membaca hadits tersebut? Kalo saya, jujur saya tertohok. Bagaimana kita mendapati kenyataan saat ini bahwa banyak orang (bisa jadi termasuk kita), belajar ilmu hanya untuk mendapat perkerjaan, niat sudah jauh dari kata lurus lillahita'ala. Sedih melihat kondisi macam ini menjadi relitas yang subur di tengah masyarakat. Uang menempuh pendidikan (khususnya pendidikan tinggi) yang mahal membuat kerap kali orientasi pendidikan bukan untuk mencerdaskan, tapi untuk mencetak tenaga siap kerja, bukan begitu?

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Selain tentu mesti meluruskan niat.

Terus terang kerap kali saya pun khawatir jikalau ilmu saya tak berkah karena salah niat atau proses. 

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, "Orang yang berilmu dan ahli berfatwa, tidak ada sesuatu yang lebih dibutuhkan melainkan sikap santun, tenang, dan sopan. Itulah kelambu bagi ilmunya dan perhiasannya. Apabila ia kehilangan sikap itu, maka ilmunya seperti badan yang telanjang tanpa busana".

Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki akhlak kita. Sebagaimana dijelaskan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah tersebut di atas bahwa akhlak adalah busana ilmu. Agar ilmu menjadi baik dan indah maka perlu menggunakan busana yang baik pula bernama akhlak.

Nabi bersabda, "Sesungguhnya di antara amal kebaikan seorang mukmin yang dapat menyusul setelah kematiannya adalah ilmu bermanfaat yang diajarkan dan disebarluaskan, anak shaleh yang ditinggalkan, mushaf yang diwariskan, masjid yang dibangun, rumah untuk ibnu sabil yang dibangun, sungai yang dialirkan, sedekah yang dikeluarkan sewaktu sehatnya dan hidupnya. Semua itu akan menyusul setelah kematianya". (H.R. Ibnu Majah) 

Yang kedua, ilmu yang bermanfaat. Sehingga mengartikulasikan ilmu dalam amal adalah hal yang sangat penting. Ilmu tak boleh hanya bertengger di kepala atau bahkan menjadikan kita pongah karena merasa paling tahu. Ilmu mesti bermanfaat untuk orang lain tanpa pamrih, semata berharap Allah ridha dengan segala yang kita lakukan. Dengan begitu insha Allah llmu akan berkah (bertambah kebaikan). Ilmu yang dibagikan tidak akan membuat kita bodoh dan mengurangi ilmu yang kita punya, tapi akan membuat kita makin belajar, mejadikan kita lebih tahu.

Tentu, berawal dari keresahan dan kekhawatiran tentang drajat keberkahan ilmu yang saya peroleh selama berkuliah di Gizi Kesehatan UGM membuat saya ingin menebarkan manfaat lewat ilmu saya. Ya, walaupun saya sadar ilmu saya masihs sangat sedikit, tapi saya berharap dapat bermanfaat.

Saya memulai dengan menjadi narasumber di Dinas Perindutrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman. Disini saya berbicara dari pasar ke pasar dihadapan para pedagang. Sejauh ini sudah ada dua pasar yang saya datangi, insha Allah segera menyusul pasar lain. Saya sangat berharap dengan aktifitas ini ilmu yang saya peroleh selama kuliah merupakan ilmu yang berkah.

Pasar Potrojayan

Pasar Tegalsari


Ketika hati kalut, jangan terus larut

Standard
"Ketahuilah, sesungguhnya ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal diri itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Lalu, pertanyaan yang muncul buat kita, bagaimana kah kondisi hati kita saat ini?

Jawabnya tak perlu njlimet, cukup lihat bagaimana aktifitas kita, apa yang kita pikirkan, dan tentu apa yang kita rasakan. Saat hati bermasalah biasanya aktifitas berantakan, pikiran semrawut, hingga persaan tak karuan. Begitukah kita saat ini?

Jika begitu, apa yang bisa kita lakukan?

Pertama, banyak mengingat Allah. Karena Allah telah menegaskan bahwa dengan senantiasa mengingat Allah maka hati akan tenang. "...Ingatlah bahwa hanya dengan dzikrullah hati menjadi tenang." (13:28)

Kedua, melakukan kegiatan positif atau kebaikan. Jangan biarkan kita larut dan kalut dalam jadwal kegiatan yang berantakan akibat hati kita yang sedang tak sehat. Isi dengan hal positif seperti olahraga, membaca, tilawah, dan lain sebagainya. "Dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik". (Al-Baqarah: 195)

Ketiga, berdo'a pada Allah dan membaca ayat-ayat Allah. Barangkali do'a berikut ini juga dapat digunakan.
Pada intinya hati manusia memang sangat dinamis sebagaimana dinamisnya iman yang kadang naik kadang turun (al-imanu yasidu wa yanqush). Yang perlu kita lakukan ketika iman sedang turun adalah segera bangkit dan tak larut. Begitu pula saat hidup ini terasa semrawut, jangan biarkan drama-drama korea makin membuat kita kalut. Setidaknya tiga poin di atas dapat menjadi saran what should we do saat hati sedang kalut.







Tuesday, February 14, 2017

Bahtera Sederhana

Standard
Hidup di keluarga sederhana bukan berarti minim kebahagiaan. Setiap saat justru hidup kami selalu dipenuhi dengan nikmat dan syukur pada Allah Yang Maha Kuasa. Walaupun tak ada hingar bingar pesta, rumah yang megah, atau kendaraan roda empat yang berjajar-jajar; kami tetep dapat merasakan apa yang disebut sebagai kebahagiaan.

Umi dan Bapak adalah pekerja keras yang ulet dalam memimpin bahtera keluarga besar kami. Membesarkan putra putrinya melalui dua generasi orde baru hingga reformasi, melalui masa-masa krisis ekonomi dengan baik, hingga perlahan berusaha mengubah pola lama yang minim media menjadi lebih ramah media.

Dinamika di keluarga kami tak bisa dibilang datar. Cobaan internal dan eksternal silih berganti datang menguji kokohnya bahtera kami. Syukur dan sabar menjadi racikan mujarab untuk menghadapi berbagai ujian yang silih berganti tersebut. Alhamdulillah hingga detik ini kami harus selalu bersyukur atas kebersamaan ini dan semoga kebersamaan ini berlanjut hingga ke jannah-Nya.

Saturday, February 11, 2017

Prioritas Kebaikan

Standard
Menjadi tugas kita untuk memastikan bahwa setiap detik dalam hidup kita merupakan ibadah, kebaikan yang diniatkan untuk Allah ta'ala. Lalu yang jadi pertayaan, bukan kah terlalu banyak pilihan kebaikan yang bisa dilakukan?

Iya betul, kita mesti bersyukur bahwa yang disebut ibadah bukan sekadar amalan transendental seperti shalat (ibadah mahdah). Tapi juga ada ibadah ghairu mahdah yang berasas kemanfaatan dan rasionalitas. Maka, bisa jadi ketika kita bekerja, belajar, bahkan tidur akan bernilai ibadah jika diniatkan lillahita'ala.

Dengan banyaknya opsi kebaikan, menjadi penting untk punya prioritas. Sehingga ketika ada berbagai peluang kebaikan hadir kita bisa dengan bijak memilih. Kita bisa menimbang mana yang lebih priotitas dan mana yang kurang prioritas.

Sunday, February 5, 2017

Tentang Skripsiku

Standard
Menulis skripsi memang tak seperti membuat jurnal ilmiah internasional yang mesti njlimet dengan bebagai metode dan embel-embel-nya. Hanya perlu ketekunan yang sungguh, itu saja cukup. Tapi, mungkin ada yang bertanya, "kenapa mas Ali belum kelar juga skripsinya?"

Februari ini memasuki bulan ke 20 aku mengerjakan skripsi, sejak sekitar Juli 2015 aku mulai berkutat dengan skripsi, sehingga praktis semester ini adalah yang ke-4 kalinya aku mengambil mata kuliah skripsi sejumlah 6 SKS itu. Ada banyak hal yang membuat sedemikian lamanya. Selain karena kesibukan organisasi yang sebenarnya tak bisa digunakan sebagai pembenaran alasan lamanya pengerjaan skripsi, aku berkeinginan apa yang aku kerjakan di skripsi ini bisa linear dengan bidang yang akan aku tekuni pasca kampus.

Awalnya skripsiku bertema relasi perokok pasif dengan status gizi, namun entah mengapa aku kurang srek di tengah jalan. Padahal waktu itu sudah hampir seminar proposal. Aku masih saja kekeuh mencari tema skripsi lain yang linear dengan bidang yang akan aku seriusi kelak.

Masalahnya saat itu aku juga masih bingung, kelak bidang mana yang akan aku dalami? Gizi dan kesehatan memiliki ruang lingkup yang sangat luas; dari mulai klinis, masyarakat, institusi, hingga olahraga, belum lagi kalo mau belajar kebijakan kesehatan. Disuguhi dengan berbagai alternatif membuat aku sempat bingung dan berpikir cukup lama. Aku meyakini dan menyadari bahwa keahlian spesifik sangat diperlukan sehingga saya pun harus punya keahlian spesifik itu.

Hingga pada akhirnya aku memutuskan. Berinteraksi dengan pedagang kaki lima, membersamai, dan merasakan bagimana problema di tengah masyarakat tentang pedagang makanan dan pedagang kaki lima khususnya, membuat aku tertarik menyelami dunia mereka menurut perspektif keilmuanku. Ya, aku sudah memilih, dan pilihan itu jatuh pada bidang keamanan pangan atau "food safety". Sejauh ini belum ada juga seniorku di Gizi Kesehatan UGM yang mendalami bidang ini secara serius. Praktis, akhirnya aku pun menemukan tema skripsiku yaitu keamanan pangan. Lebih tepatnya berjudul "Studi Keamanan Pangan Food Court Gelanggang Mahasiswa UGM". Sebuah skripsi yang membuat aku belajar dan berdiskusi lebih banyak. Penelitian secara individu ini membutuhkan banyak inistiatif. Walaupun sebenarnya beberapa kali aku ditawari bergabung masuk proyek penelitian dosen, dengan mengucap bismillah aku menolak dan tetap bertahan untuk meneruskan ini, sebuah tema yang diambil berdasarkan pernungan yang panjang.

Dan alhamdulillah saat ini aku sudah ambil data dan sedang dalam pengerjaan bab hasil dan pembahasan. Mohon do'anya kawan, semoga lancar dan bermanfaat :)

Disini barang kali ada sedikit pelajaran yang bisa aku ambil, bahwa sebaiknya kita punya keseriusan dalam bidang tertentu sejak awal, menyelaminya dengan penuh kesungguhan, dan bahkan menjadikanya seperti hobi. Karena pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar, bukan begitu?

Serta kabar baiknya, alhamdulillah dengan punya fokus bidang yang ingin didalami aku lebih memahami bagaimana harus melangkah dan berkontribusi. Dari mulai survei keamanan pangan, membina pedagang kantin, juri kantin sehat, menjadi pembimbing pedagang di Kab. Sleman, dan insha Allah ada jejak kontribusi lain kedepan di bidang keamanan pangan.